Jumat, 24 Oktober 2025

20.000 Perut, 90 Ton Nasi: Drama Mahasiswa UIN SATU dan Beras yang Tak Pernah Cukup

Ada hal yang lebih menegangkan dari skripsi dan lebih menggetarkan dari sidang munaqasyah: perut mahasiswa UIN SATU Tulungagung yang tak pernah benar-benar kenyang.

Bayangkan saja, lebih dari 20.000 mahasiswa setiap hari mengunyah, menelan, dan mencerna nasi dalam berbagai bentuk: nasi pecel, nasi goreng, nasi bungkus kantin, atau sisa nasi kos yang dihangatkan tiga kali. Di antara tumpukan buku dan jadwal kuliah yang padat, nasi tetap menjadi “ruh kehidupan” anak kampus.

Tapi pernahkah kita berpikir: berapa banyak beras yang habis untuk memberi makan seluruh mahasiswa UIN SATU Tulungagung setiap harinya?

Hitungan Gila-Gilaan: Dari Sendok ke Ton

Mari kita mulai dengan data sederhana (tapi cukup bikin kaget). Berdasarkan data resmi kampus, jumlah mahasiswa aktif UIN SATU sekitar 20.000 orang. Nah, kalau satu mahasiswa makan 150–250 gram beras mentah per hari, tergantung ukuran perut dan tanggal tua, maka hasilnya…

📊 Estimasi konsumsi beras mahasiswa:

  • Konsumsi rendah (150 g) → 3 ton/hari

  • Konsumsi normal (200 g) → 4 ton/hari

  • Konsumsi tinggi (250 g) → 5 ton/hari

Artinya, setiap 24 jam, mahasiswa UIN SATU menelan setara dengan 4.000 kilogram beras.
Empat ton! Itu sama dengan 80 karung beras 50 kg, atau satu truk besar logistik yang penuh.

Kalau dihitung seminggu, angka itu menjadi 28 ton, dan dalam sebulan bisa menembus 120 ton beras.

Kalau Dikonversi ke Uang, Siapa yang Bayar?

Harga beras di Indonesia pada 2025 bervariasi antara Rp13.000–17.000/kg tergantung jenis dan kualitas. Kalau kita ambil rata-rata Rp15.000/kg, maka:

  • 4 ton × Rp15.000 = Rp60.000.000 per hari

  • Dalam seminggu: Rp420.000.000

  • Dalam sebulan: Rp1,8 milyar

Ya, hampir dua milyar rupiah sebulan hanya untuk beras mahasiswa UIN SATU Tulungagung!

Belum termasuk lauk: tempe, tahu, ayam geprek, atau sambal setan level 10 yang bisa bikin mahasiswa menangis dua kali — pertama karena pedas, kedua karena harga.

Beras, Nafas Kolektif Mahasiswa

Beras bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol harapan dan perjuangan mahasiswa kos. Saat uang bulanan tinggal dua digit, nasi putih tetap jadi sahabat sejati.

Ada yang berhemat dengan “nasi kucing + teh manis refill tiga kali”, ada yang kreatif mencampur mie instan dengan nasi biar “kenyang batin”.

Namun di balik lelucon soal tanggal tua itu, tersembunyi fakta menarik: konsumsi beras mahasiswa secara agregat menunjukkan betapa kampus adalah ekosistem ekonomi kecil yang berdenyut.

Bayangkan, jika seluruh mahasiswa UIN SATU tidak makan nasi satu hari saja, pedagang warung, ibu kos, dan tukang sayur sekitar kampus bisa panik. Dunia ekonomi kecil di sekitar mereka ikut lapar.

Imam al-Juwaynī Pasti Setuju: Semua Harus Proporsional

Kalau kita baca Kitab Uṣūl al-Fiqh al-Waraqāt karya Imam al-Ḥaramayn Abū al-Ma‘ālī al-Juwaynī, beliau menulis:

« العلم ما يوجب سكون النفس، ولا يكون ذلك إلا بدليل »
“Ilmu adalah sesuatu yang menenangkan jiwa, dan itu tidak mungkin dicapai tanpa dalil.”

Tapi bagaimana bisa jiwa tenang kalau perut keroncongan?
Mungkin, kalau Imam al-Juwaynī hidup di Tulungagung hari ini, beliau akan menambahkan bab baru dalam kitabnya: “Tentang pentingnya nasi sebelum berijtihad.”

Dalam ilmu ushul fikih, keseimbangan antara dalil dan kebutuhan jasmani adalah hal penting. Begitu pula dalam kehidupan kampus: ilmu dan nasi harus berjalan beriringan. Karena tak ada logika yang jernih di tengah lapar.

Ternyata, Nasi Itu Filsafat Hidup Mahasiswa

Dari segi energi, 200 gram beras setara sekitar 700 kalori. Jika setiap mahasiswa mengonsumsi itu per hari, maka kampus menghasilkan energi kolektif sebesar 14 milyar kalori!

14 milyar kalori — cukup untuk menyalakan kipas angin di setiap kamar kos selama satu semester penuh!

Beras tidak hanya mengisi perut, tapi juga menyuplai daya berpikir. Setiap butir nasi yang ditelan mahasiswa adalah bahan bakar bagi otak yang memecahkan soal, menulis paper, atau menghafal kitab.

Ketika Nasi Jadi Identitas Kampus

Kalau UIN SATU punya tagline akademik seperti “Kampus Ilmu dan Integritas”, maka tagline informalnya bisa jadi:

“Kampus Nasi dan Keberlanjutan Hidup.”

Karena, di antara semua kebijakan akademik, yang paling stabil adalah kewajiban makan tiga kali sehari.

Bayangkan saja, 120 ton beras per bulan itu cukup untuk memberi makan seluruh penduduk satu kecamatan kecil di Tulungagung. Dan semuanya terserap oleh para mahasiswa — manusia super yang bisa kuliah, nugas, magang, dan tetap lapar.

Penutup: Di Balik Setiap Skripsi, Ada Sepiring Nasi

Jadi, kalau Anda melihat mahasiswa UIN SATU sedang melahap nasi bungkus di bawah pohon atau di depan masjid kampus, hormatilah momen itu. Di situlah keajaiban terjadi: nasi diubah menjadi energi, energi diubah menjadi ide, dan ide diubah menjadi peradaban.

Sebab tanpa nasi, mungkin tidak ada skripsi yang selesai, tidak ada dosen yang bahagia, dan tidak ada wisuda yang penuh senyum.

Seperti kata pepatah (versi kos Tulungagung):

“Barang siapa meninggalkan nasi, maka ia telah keluar dari jalan kekenyangan yang lurus.” 😄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar