aku datang bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai orang yang rindu.
di lenganku tergenggam abu sawah dan debu gerabah,
di dadaku tersimpan nyala-nyala pasar pagi dan derap langkah anak-anak kampus.
tulungagung, katakan padaku, apakah kau masih ingat bagaimana cahaya turun ke lantai rumah?
apakah kau masih menyimpan suara-suara kecil: ibu menumbuk padi, bapak menghaluskan tanah liat, pemuda mengangkat ember harapan?
dengarlah, aku hendak menyusun puisi dari ranting-ranting yang kau berikan,
dari kebun yang menunduk, dari gerai-gerai yang menumpuk mimpi,
dari bangku-bangku kuliah yang memendam tanya,
dari mimik pemimpin yang sibuk menabur janji di tepian kota.
biarkan aku menyalakan obor di setiap gang,
agar bayangan-bayangan panjang itu tidak lagi menari sendirian.
di sini orang belajar dari tanah:
cara menunggu hujan, cara merawat akar yang rapuh, cara memetik bulan lewat telapak tangan.
sekolah-sekolah adalah perahu kecil di sungai pengetahuan;
anak-anak naik dan turun, membawa bekal buku, membawa rasa ingin tahu,
mereka bertanya, “kenapa dunia begitu besar?” — dan guru menjawab dengan peta langit dan peta hati.
ada kampus yang membuka pintu seperti rumah, menampung anak-anak desa yang membawa nama keluarga di saku.
di kelas, harapan dikerek; di asrama, doa-doa kecil bertumbuh seperti jamur selepas hujan.
namun ada pula kecemasan yang bercampur dengan kopi pagi:
ketika lapangan kerja terasa sempit seperti kakimu yang basah oleh lumpur,
ketika keramik-keramik yang diukir tangan itu harus bersaing dengan kilau mesin dan layar,
ketika UMKM menulis proposal tiap musim tetapi pasar tidak selalu ramah,
ada bunyi mesin ekonomi yang tak berhenti, namun tak selalu menyalakan api di setiap tungku rumah.
orang-orang berkata, “kita butuh peluang,” — lalu mengetuk pintu-pintu yang kadang lupa membuka.
budaya di kota ini seperti kain panjang: tenunan tradisi menempel pada benang modernitas.
ada festival yang menggulung senja menjadi tawa, seni rakyat yang menyelimuti lapangan,
ada tarian yang menari di bawah lampu minyak, ada syair-syair yang dilantunkan di warung kopi.
tetapi jangan lupa: tradisi butuh udara; tanpa perhatian, ia menjadi arang.
orang tua merawat cerita; anak muda merekamnya, membawanya ke layar, lalu sesekali membiarkannya bernapas.
ada kecantikan yang tak terjual di antara rumah-rumah, ada bahasa lama yang masih menyimpan nama-nama rempah dan doa.
politik di sini seperti jalan — terkadang mulus, terkadang berlubang.
para pemimpin berbicara tentang proyek, tentang jalan baru, tentang jembatan yang akan menyambung mimpi;
mereka menulis angka-angka pada papan publik, menabur kebaikan dalam kampanye,
tetapi hati rakyat menaruh harap pada hal-hal yang tak bernomor: air bersih untuk anak kecil, lampu jalan untuk pulang malam, sekolah yang menuntun tanpa memalukan.
di tengah rapat dan dokumen, ada suara rakyat yang sederhana: “jaga kami, jangan hanya pamer.”
politik yang baik adalah politik yang turun dari podium lalu duduk di bangku pasar, mendengar.
ekonomi kota ini berdenyut di tangan-tangan yang kerja, bukan pada grafik.
petani, pengrajin, pedagang, mereka menenun keseharian — ada marmer yang dipoles, ada keramik yang menunggu kilau,
ada usaha kecil yang memulai pagi dengan doa dan menutup malam dengan hitungan receh.
ekonomi ideal bukan hanya angka besar di layar, melainkan perut yang kenyang, anak yang bisa sekolah, dan ibu yang bisa menabung untuk obat.
kita perlu ruang untuk berinovasi; kita perlu modal yang tak membuat nyawa jadi beban; kita butuh pasar yang hadir seperti tamu yang sopan, menghargai kerja tangan.
tulungagung, dengarkan nadaku yang merunduk: jangan biarkan kota menjadi kumpulan gedung tanpa pelukan.
di setiap gang masih ada tetangga yang tahu nama pohon depan rumahmu,
di setiap deru kendaraan masih ada tukang ojek yang kahadiranmu sebagai alasan berdiri,
kehidupan tak hanya soal rencana strategis, tetapi soal siapa yang menolong ketika hujan datang.
aku melihat pula wajah-wajah yang tak terlihat di statistik: perempuan yang menjahit masa depan dengan benang-benang kecil, nelayan yang menyesap mentari pagi, seniman yang mencampur debu dan imajinasi.
mereka adalah pembuat kota, bukan sekadar penonton.
berikan mereka ruang, berikan mereka suara, berikan mereka rasa aman untuk bermimpi dan menunaikannya.
ada juga kerinduan yang lembut: generasi muda yang ingin pulang dan membangun, bukan melarikan diri; mereka menulis surat cinta untuk kampung, tapi takut ditertawakan oleh kenyataan.
mari kita jaga ruang itu: sarana pelatihan yang menghubungkan tangan terampil dengan pasar luas; dana kecil yang seperti benih, jika disiram konsisten akan menjadi pohon yang berbuah; kebijakan yang sederhana namun tulus, bukan janji yang gemerlap sebelum pemilu.
di bawah semua data dan program, ada doa-doa sunyi yang mengikat warga: doa untuk panen yang tak rusak, doa untuk anak yang lulus, doa untuk ketua RT yang jujur.
dan doa itu lebih ampuh dari rencana paling terang sekalipun, karena ia menembus malam dan menyapa pagi.
oh tulungagung, bila kota adalah tubuh, maka budayamu adalah nadinya, pendidikannya adalah jiwanya, ekonomimu adalah kekuatannya, politikmu adalah kepala yang harus berpikir bijak.
setiap elemen perlu dijaga, setiap suara perlu didengar.
jangan biarkan keramik-keramikmu pecah karena gegabah; jangan biarkan sawahmu merana karena janji yang tak ditepati.
jadikan sekolah bukan sekadar tempat lulus, melainkan tempat yang menumbuhkan keberanian; jadikan pasar bukan sekadar transaksi, melainkan ruang pertemuan penuh etika.
aku menutup puisiku dengan satu permintaan sederhana: ajaklah kota ini berdansa lagi, tapi dengan langkah yang sadar.
jangan hanya mengejar kilau cepat; biarkan ada pekerjaan yang memahat karakter, kebijakan yang menumbuhkan martabat, pendidikan yang menyalakan nurani.
karena ketika kota merawat warganya, kota itu sendiri menjadi rumah yang hangat — bukan hanya untuk berdiri, tetapi untuk pulang.
dan jika kau tanya apa doa terakhirku untuk tulungagung hari ini, aku akan berkata dengan suara yang lembut:
semoga tangan-tangan kecil itu terus bekerja, semoga guru-guru terus menghidupkan rasa ingin tahu, semoga pemimpin mendengar lebih sering daripada berbicara, semoga pasar menjadi ladang keadilan, dan semoga setiap malam menutup dengan rasa syukur — bukan penyesalan.
itulah harapanku, yang kutulis di atas daun pagi, di atas genteng, di atas meja warung — semoga kau membacanya sambil tersenyum, tulungagung, dan tahu bahwa kau dicintai bukan karena megah, melainkan karena hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar