Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, sejumlah kabupaten kini masuk zona merah rawan banjir. Di Kabupaten Pasuruan, sembilan kecamatan disebut berisiko tinggi — antara lain Gempol, Bangil, dan Winongan. (Detik Jatim, 2024)
Tak jauh dari sana, Lamongan mencatat peningkatan jumlah desa terdampak banjir dalam lima tahun terakhir. Sungai besar seperti Bengawan Solo yang melintasi wilayah Bojonegoro dan Lamongan sering meluap ketika curah hujan tinggi. Akibatnya, lahan pertanian tenggelam, akses jalan terputus, dan aktivitas warga lumpuh selama berhari-hari. (Bojonegoro iNews, 2024)
Sementara itu, di Pulau Madura, khususnya Kabupaten Sampang dan Bangkalan, banjir sudah menjadi bagian dari siklus tahunan. Air yang meluap dari sungai-sungai kecil dengan cepat menenggelamkan permukiman warga. Sedangkan di Kota Malang, meski berada di dataran tinggi, lima kawasan seperti Jalan Bareng Raya 2, Jalan Danau Sentani, dan Jalan Galunggung juga dilaporkan sering tergenang karena buruknya sistem drainase kota. (Radar Malang, 2024)
🌱 Banjir Tak Selalu Salah Alam
Kita sering menyalahkan alam setiap kali air datang meluap, padahal banyak sebab justru berawal dari ulah manusia. Sampah plastik yang menumpuk di selokan, pembangunan yang tak memperhatikan tata ruang, dan penebangan pohon di hulu sungai membuat tanah kehilangan daya serap air. Alam sebenarnya hanya sedang “mengembalikan” apa yang kita rusak pelan-pelan.
BNPB melalui data resminya mencatat, perubahan tata guna lahan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko banjir di Jawa Timur. Sungai yang dulu lebar kini menyempit karena sedimentasi dan pembangunan permukiman di bantaran.
Air hujan yang seharusnya terserap tanah malah mengalir bebas tanpa arah. Dan ketika sistem drainase tak mampu menampung debitnya, banjir pun tak terhindarkan.
💧 Saatnya Berhenti Menunggu Pemerintah
Menangani banjir bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua. Sebab lingkungan yang baik adalah hasil gotong royong. Tak perlu menunggu proyek miliaran rupiah, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.
Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa membantu mengurangi risiko banjir di masa mendatang:
-
Jangan buang sampah sembarangan.Kedengarannya sepele, tapi satu plastik di selokan bisa jadi awal genangan yang meluas. Pastikan setiap rumah punya sistem pengelolaan sampah, minimal pisahkan sampah organik dan non-organik.
-
Tanam pohon di halaman atau sekitar rumah.Akar pohon membantu menyerap air berlebih saat hujan deras. Gerakan menanam satu pohon bisa jadi investasi besar bagi lingkungan.
-
Bangun sumur resapan atau biopori.Ini cara efektif dan murah untuk membantu air kembali ke tanah. Banyak komunitas lingkungan di Surabaya dan Malang yang sudah mulai menggerakkan hal ini.
-
Jangan bangun rumah di bantaran sungai.Selain berbahaya, ini mempersempit aliran air dan memicu luapan saat hujan deras. Pemerintah daerah juga kini memperketat izin bangunan di wilayah tersebut.
-
Kurangi penggunaan beton di halaman.Tanah terbuka membantu air meresap lebih cepat. Jika semua halaman tertutup semen, air hujan akan mencari tempat lain untuk mengalir — seringkali ke jalan atau rumah tetangga.
🌤️ Dari Air, Kita Belajar Tentang Kesabaran
Air selalu mengalir mencari tempat rendah — ia mengajarkan kerendahan hati. Tapi ketika manusia menghalangi jalannya, ia bisa berubah jadi amarah. Banjir bukan hanya bencana, tapi juga peringatan lembut dari alam: bahwa kita perlu menata ulang cara hidup kita.
Jika hari ini air menenggelamkan jalan, mungkin besok ia akan menenggelamkan kesadaran kita — bahwa bumi ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga teman hidup yang harus dijaga.
Mari belajar dari hujan: datangnya bisa kita antisipasi, tapi dampaknya bisa kita kurangi bila kita mau peduli. Mungkin mulai dari hal sederhana — seperti tidak membuang sampah di selokan, atau menanam satu pohon di depan rumah. Karena perubahan besar selalu dimulai dari niat kecil yang tulus.
📚 Referensi
-
Detik Jatim. (2024). Waspada! Ini Kabupaten dan Kecamatan di Jawa Timur yang Rawan Banjir.
-
Radar Malang. (2024). Lima Kawasan di Kota Malang Rawan Banjir.
-
Bojonegoro iNews. (2024). Pemetaan Terbaru BPBD, Wilayah Bojonegoro Rawan Banjir dan Longsor.
-
BNPB Data Bencana Jawa Timur. (2025). Portal Data Kebencanaan Indonesia.
-
Suara Surabaya. (2024). BPBD Jatim Catat 8 Wilayah Alami Banjir Akibat Intensitas Hujan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar