Itu adalah kesimpulan pertama yang mampir di kepala Karim saat ia membuka mata di pagi ketiga. Ia duduk memeluk lutut di atas genteng rumahnya yang berlokasi di kawasan Pinka (Pinggir Kali). Sejauh mata memandang, dari Jembatan Lembu Peteng hingga cakrawala yang biasanya menampilkan siluet Gunung Budheg, kini hanya ada hamparan hitam.
Bukan air. Itu terlalu kental untuk disebut air.
Zat cair itu legam, pekat, dan tidak memantulkan cahaya matahari. Permukaannya tenang, tanpa riak, seolah-olah waktu telah membeku di sana. Tidak ada bangkai ayam, kasur bekas, atau sampah plastik saset sampo yang biasanya menjadi rombongan karnaval saat banjir luapan Sungai Ngrowo tiba.
Yang ada hanya keheningan. Jenis keheningan yang membuat telinga berdenging, seolah-olah seluruh kota telah dibungkus kapas tebal. Karim adalah satu-satunya penonton di teater raksasa yang panggungnya sedang direnovasi secara paksa oleh alam.
Keanehan yang paling absurd bukanlah banjir itu sendiri, melainkan apa yang tumbuh darinya. Di tengah jalan aspal yang kini terkubur tiga meter di bawah cairan hitam itu, mencuatlah pohon-pohon raksasa. Namun, mereka tumbuh terbalik. Akar-akarnya yang semrawut, keriput, dan purba menjulang ke langit, seolah ingin mencengkeram awan, sementara dedaunannya—Karim berasumsi—terbenam di dalam lumpur hitam, "bernapas" di dalam air.
Karim, seorang pegawai honorer kelurahan yang seumur hidupnya hanya peduli pada jam pulang kantor dan warung kopi, kini dihadapkan pada pemandangan kiamat lokal yang estetik sekaligus mengerikan.
Rasa sepi mulai memakan kewarasannya. Maka, ketika sepotong batang kayu jati tua yang hanyut tiba-tiba tersangkut di talang airnya, Karim memutuskan untuk menyapanya. Di dunia yang sudah gila, berbicara dengan kayu adalah bentuk kewarasan baru.
"Selamat pagi," sapa Karim dengan suara parau. Tenggorokannya kering, tapi anehnya ia tidak merasa haus. Udara di sekitarnya lembap, penuh aroma tanah basah dan getah pinus yang menyengat.
Batang kayu itu diam. Tentu saja diam. Tapi kemudian, sebuah getaran halus merambat melalui genteng yang diduduki Karim, langsung menuju tulang ekornya, dan berbunyi di dalam tempurung kepalanya.
"Pagi itu konsep manusia, Karim. Bagi kami, ini hanyalah kelanjutan dari siklus karbon."
Karim terlonjak kaget, nyaris tergelincir jatuh ke dalam lautan hitam di bawahnya. Ia menatap batang kayu itu. Kulit kayunya yang terkelupas tampak seperti wajah tua yang sedang menyeringai sedih.
"Kau... kau bisa bicara?" tanya Karim, suaranya bergetar antara takut dan takjub.
"Kami tidak bicara. Kami beresonansi," jawab suara itu. Nadanya berat, seperti gesekan dua batu kali di dasar sungai yang dalam. "Lagipula, kau yang menciptakan suara ini di kepalamu. Kau terlalu takut sendirian, jadi otakmu menerjemahkan frekuensi keberadaan kami menjadi bahasa manusia yang terbatas."
Karim tertawa hampa. "Hebat. Aku sudah gila. Banjir ini membuatku skizofrenia."
"Banjir?" Batang kayu itu seolah mendengus. "Kalian selalu salah memberi nama. Ini bukan banjir, Anak Muda. Ini adalah Kepulangan."
"Kepulangan apa?" Karim menunjuk hamparan hitam di sekelilingnya. "Kalian menghancurkan kota! Lihat itu, Pasar Wage hilang. Sekolah anakku hilang. Alun-alun pasti sudah jadi kolam lele raksasa sekarang. Ini bencana!"
Hening sejenak. Akar-akar raksasa yang menjulang ke langit di kejauhan tampak bergerak pelan, melambai-lambai seolah sedang melakukan senam pagi yang lamban.
"Kami tidak menghancurkan," suara itu kembali, kali ini terdengar lebih majemuk, seolah ribuan pohon berbicara serentak dalam satu frekuensi. "Kami hanya mengambil kembali ruang tamu kami. Dulu, sebelum kakek buyutmu bisa mengeja nama Tulungagung, lembah ini adalah milik kami. Rawa-rawa agung. Hutan-hutan jati yang rapat. Lalu kalian datang dengan kapak, lalu gergaji mesin, dan terakhir dengan surat sertifikat tanah."
"Itu namanya peradaban!" sergah Karim, merasa perlu membela spesiesnya. "Kami butuh tempat tinggal. Kami butuh kayu untuk kusen jendela, untuk meja, untuk kertas skripsi!"
"Ah, peradaban..." Suara itu terdengar geli. "Peradaban yang lucu. Kalian menebang kami di pegunungan Sendang dan Pagerwojo supaya bisa menanam sayur dan membangun vila estetik buat konten media sosial. Kalian mengupas kulit gunung kapur di Campurdarat sampai gunung itu telanjang dan putih pucat seperti tulang belulang. Lalu, ketika tanah kehilangan daya cengkeramnya dan air tak lagi punya rumah, kalian marah saat air itu berkunjung ke ruang tamu kalian?"
Karim terdiam. Kata-kata itu menohok ulu hatinya. Ia teringat berita-berita di televisi tentang hutan gundul yang sering ia abaikan sambil memakan gorengan.
"Tapi aku tidak melakukannya," bela Karim lirih. "Aku cuma orang kecil. Aku tidak punya tambang marmer. Aku tidak punya bisnis kayu ilegal. Aku bahkan menanam satu pohon mangga di depan rumahku!"
Tiba-tiba, permukaan air hitam di depan rumah Karim bergejolak. Sebuah akar beringin raksasa, sebesar truk tronton, menyembul perlahan. Ujung-ujung akarnya yang serabut bergerak lincah seperti jari-jemari penari, lalu berhenti tepat di depan wajah Karim.
"Ketidaktahuan adalah pupuk terbaik bagi bencana, Karim," bisik suara itu, kini terdengar sangat dekat dan intim. "Kau bilang kau tidak melakukannya. Tapi saat tetanggamu menyemen seluruh halaman rumahnya agar 'bersih dan rapi', kau diam. Saat sungai di belakang rumahmu dipersempit untuk bangunan ruko, kau diam. Saat truk-truk pengangkut kayu curian lewat di malam hari, kau menutup gorden."
"Aku takut!" teriak Karim. "Apa yang bisa dilakukan satu orang melawan sistem?"
"Satu orang?" Akar itu tertawa, suara gemerisik daun kering yang menyeramkan. "Hutan itu terdiri dari satu pohon, ditambah satu pohon, ditambah satu pohon. Kami kuat karena kami terhubung. Akar kami saling berjabatan tangan di bawah tanah, saling memberi nutrisi. Jika satu pohon sakit, yang lain mengirim bantuan lewat jaringan jamur di tanah. Kalian, manusia... kalian hidup berdempetan dinding, tapi akar kalian terputus satu sama lain. Kalian egois. Itulah kenapa kalian kalah."
Karim menunduk. Ia melihat pantulan wajahnya di air hitam itu. Tapi yang ia lihat bukan wajahnya sendiri, melainkan wajah yang terbuat dari kulit kayu yang retak.
"Jadi... apa yang terjadi pada orang-orang lain?" tanya Karim pelan, ketakutan mulai merayap dingin di punggungnya. "Istriku? Anakku? Tetangga-tetanggaku? Di mana mereka?"
"Mereka aman. Mereka sudah berevolusi," jawab suara itu tenang.
"Mati maksudmu?"
"Tidak. Lihatlah lebih dekat."
Karim menyipitkan mata, menatap ke dalam kedalaman cairan hitam pekat di bawahnya. Perlahan, visinya menembus kegelapan itu.
Di sana, di dalam rahim air bah yang absurd itu, ia melihat mereka. Ia melihat Pak RT, Bu Minah penjual sayur, istrinya, anaknya. Mereka tidak mengapung kaku sebagai mayat. Mereka berdiri tegak di dasar air, kaki mereka telah berubah menjadi akar yang menancap kuat ke aspal yang retak. Tangan mereka terentang ke atas, jari-jemarinya memanjang menjadi ranting-ranting muda yang bersemi. Rambut mereka telah berubah menjadi dedaunan hijau segar yang melambai-lambai di arus bawah yang tenang.
Mereka tidak mati. Mereka telah ditanam.
Wajah-wajah mereka tampak damai, mata terpejam, menikmati nutrisi yang dialirkan langsung dari bumi yang marah. Tidak ada tagihan listrik di wajah itu. Tidak ada stres cicilan motor. Hanya ketenangan vegetatif yang abadi.
"Ini gila..." desis Karim, mundur menjauh dari tepi genteng. "Kalian mengubah manusia menjadi pohon?"
"Kami mengembalikan fungsi," koreksi suara itu. "Sebagai manusia, kalian gagal menjaga keseimbangan. Kalian menjadi parasit. Maka, kami mengubah kalian menjadi produsen oksigen. Ini adalah "promosi jabatan" bagi spesies kalian. Sekarang, keberadaan kalian benar-benar berguna bagi bumi. Kalian tidak lagi merusak, kalian memberi hidup."
"Aku tidak mau!" teriak Karim panik. Ia merangkak mundur sampai punggungnya membentur cerobong asap. "Aku mau tetap jadi manusia! Aku mau minum kopi! Aku mau merasakan sedih dan senang!"
Akar beringin di depannya bergerak maju, perlahan merambat naik ke genteng. Tidak ada agresi, hanya gerakan yang tak terelakkan, seperti pertumbuhan tanaman rambat yang dipercepat seribu kali lipat.
"Untuk apa, Karim?" tanya suara itu lembut, hampir seperti seorang ibu yang membujuk anaknya tidur. "Lihat duniamu. Panas yang menyengat kulit. Udara yang penuh racun asap knalpot. Makanan yang penuh plastik mikro. Kalian berlarian mengejar kertas bergambar angka, lalu mati menyisakan sampah. Di sini, di dalam Persaudaraan Akar, kau akan tenang. Kau akan menjadi bagian dari Hutan Baru Tulungagung. Kau akan menyaring udara. Kau akan menahan air. Kau akan menjadi pahlawan tanpa perlu lencana."
Ujung akar itu menyentuh kaki telanjang Karim. Rasanya dingin, tapi menenangkan. Rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerang Karim. Lelah karena bekerja, lelah karena berpikir, lelah karena menjadi manusia di zaman yang rusak.
"Apakah... apakah sakit?" tanya Karim, air matanya menetes.
"Hanya sebentar. Seperti dicubit semut. Lalu setelah itu, kau hanya akan merasakan sejuknya embun dan hangatnya matahari pagi. Selamanya."
Karim menatap langit Tulungagung yang kelabu. Ia membayangkan hutan-hutan di Pagerwojo yang gundul. Ia membayangkan tambang marmer yang menganga seperti luka borok. Manusia telah gagal. Mungkin, pikirnya, ini memang cara alam melakukan reset pabrik.
"Kenapa aku disisakan paling akhir?" tanya Karim, saat akar itu mulai melilit pinggangnya dengan lembut, terasa seperti pelukan kekasih yang lama hilang.
"Karena seseorang harus menceritakan kisah ini," jawab suara itu, kini terdengar semakin sayup, seiring kesadaran Karim yang mulai memudar, terserap ke dalam jaringan kayu. "Tapi karena tak ada lagi manusia yang tersisa untuk mendengarnya, maka kau bercerita pada angin saja. Jadilah pohon yang paling rimbun, Karim. Jadilah saksi bisu bahwa di sini, pernah ada kota yang merasa dirinya tuan, padahal ia hanya penyewa yang menunggak bayaran."
Karim memejamkan mata. Ia merasakan jari-jarinya kaku dan memanjang. Kakinya menembus genteng, menembus plafon, menembus lantai keramik, hingga menghunjam jauh ke dalam tanah yang basah dan gembur.
Darahnya berubah menjadi getah bening yang manis. Detak jantungnya melambat, menyesuaikan dengan ritme musim.
Di atas atap sebuah rumah di Pinka, satu pohon jati muda baru saja tumbuh dalam hitungan detik. Daunnya lebar dan hijau, menaungi air hitam yang tenang di bawahnya.
Tulungagung kini sunyi kembali. Opera akar gantung telah selesai. Tirai air hitam perlahan surut, meninggalkan kota yang kini bukan lagi kota, melainkan hutan rimba yang rapat, di mana setiap batangnya memiliki nama, dan setiap daunnya memiliki kenangan tentang masa lalu yang serakah.
Dan angin berhembus pelan, membawa kabar ke kota-kota lain yang belum tenggelam: Giliran kalian akan tiba. Bersiaplah untuk ditanam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar