“Aku cuma lupa buang sampah, bukan bikin kiamat,” kataku sambil menendang kantong plastik hitam yang nyangkut di sudut dapur.
“Kalimat terakhir manusia sebelum kiamat,” jawab Dina, istriku, sambil menyeruput kopi dari gelas plastik bekas minuman kemarin.
“Tenang saja,” kataku. “Plastik itu awet. Artinya dia setia.”
“Setia menghantui kita,” sahut Dina. “Dan tolong, kopi panas di gelas plastik itu bikin aku merinding.”
“Halah, lebay.”
Itulah hidup kami. Normal. Terlalu normal. Sampah plastik menumpuk di sudut rumah, botol air mineral di bawah meja, sedotan di mana-mana seperti jebakan tikus modern.
“Mas, kamu yakin air galon ini aman?” tanya Dina suatu pagi.
“Aman. Airnya bening.”
“Bening bukan berarti suci,” katanya pelan.
Aku tertawa. “Kamu kebanyakan nonton dokumenter.”
“Dan kamu kebanyakan minum dari botol plastik,” balasnya.
Hari-hari berlalu. Tetangga kami, Pak RT, sering lewat sambil ngomel.
“Mas, sampah plastik jangan dibuang ke selokan!”
“Siap, Pak!” jawabku, sambil—jujur saja—membuangnya malam hari.
“Aku dengar plastik bisa pecah jadi partikel kecil,” kata Dina suatu malam.
“Mikroplastik?” tanyaku sok pintar.
“Iya. Masuk ke air. Ke ikan. Ke tubuh kita.”
“Kita kan bukan ikan.”
“Kita makan ikan.”
Aku terdiam. Lalu tertawa lagi. “Tenang. Tubuh manusia kuat.”
“Tubuh manusia juga bisa rusak pelan-pelan,” katanya.
Mimpi buruk dimulai dari hal kecil.
“Mas, kok air keran bau ya?” tanya Dina.
“Bau apa?”
“Bau… plastik. Kayak mainan murah dibakar.”
Aku mencium. “Perasaan biasa.”
“Perasaanmu sudah mati,” katanya.
Seminggu kemudian, berita di TV.
“‘Penelitian terbaru menemukan mikroplastik dalam air minum dan darah manusia,’” suara penyiar terdengar ceria. Terlalu ceria.
“Mas, dengar itu?” tanya Dina.
“Ah, media lebay.”
“Lebih lebay kalau darah kita jadi tempat parkir plastik.”
Aku menelan ludah. “Kamu mulai bikin aku takut.”
“Itu niatku.”
Tubuhku mulai aneh. Perut kembung. Tenggorokan perih.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Dina.
“Mungkin maag.”
“Kamu makan apa tadi?”
“Mie instan.”
“Di mangkuk plastik?”
“Iya.”
“Pakai air panas?”
“Iya.”
Dina menatapku lama. “Kamu tahu kan, panas bikin plastik melepas zat berbahaya?”
“Sekarang kamu ceramah?”
“Sekarang aku takut.”
Dokter berkata dengan suara datar, “Ada peradangan. Dan… partikel asing.”
“Partikel apa, Dok?” tanyaku.
“Mirip mikroplastik.”
“Plastik?” Dina hampir berteriak. “Di tubuh suami saya?”
“Plastik itu tidak hilang,” kata dokter. “Dia hancur jadi kecil. Masuk lewat air, makanan, udara.”
“Dan membunuh?” tanyaku.
“Perlahan,” jawabnya.
Di rumah, suasana berubah.
“Aku merasa bersalah,” kataku.
“Baru sekarang?” Dina menyentakku. “Kita buang plastik sembarangan. Kita minum dari botol sekali pakai. Kita tertawa.”
“Aku pikir itu sepele.”
“Plastik juga mikir begitu,” katanya pahit. “Dia cuma ada. Lalu tinggal. Lalu masuk ke kita.”
Malam-malamku dipenuhi suara.
“Krek… krek…” seperti plastik diremas.
“Mas, kamu dengar itu?” Dina berbisik.
“Dengar apa?”
“Suara plastik.”
Aku tertawa gugup. “Kita cuma paranoid.”
“Kamu yakin?” katanya. “Soalnya aku dengar dari dalam kamu.”
Aku membeku.
Hari demi hari, tubuhku melemah.
“Aku haus,” kataku.
“Minum air ini,” Dina menyodorkan botol kaca.
“Kenapa bukan yang biasa?”
“Karena aku masih ingin kamu hidup.”
Aku minum. Rasanya… bersih. Tapi bayangan plastik masih ada.
“Mas,” kata Dina suatu malam. “Aku baca, mikroplastik bisa membawa racun. Masuk ke organ. Ganggu hormon. Bikin kanker.”
“Kenapa kamu ceritakan sekarang?” tanyaku lemah.
“Supaya kamu tahu ini bukan kutukan. Ini ulah kita.”
Aku tertawa lirih. “Horor karena logika.”
“Horor karena kebiasaan,” jawabnya.
Tetangga kami mulai sakit.
“Mas, Pak RT meninggal,” kata Dina.
“Kenapa?”
“Gagal ginjal. Air sumur tercemar.”
Aku teringat selokan. Kantong hitam. Malam-malam pura-pura bersih.
“Ini salahku,” kataku.
“Ini salah kita,” katanya.
Aku bermimpi tenggelam di lautan plastik.
“Kenapa kamu buang aku?” suara itu bertanya.
“Aku pikir kamu tidak bernyawa,” jawabku.
“Kami memang tidak bernyawa,” katanya. “Makanya kami tidak pernah mati.”
Aku terbangun sambil berkeringat.
“Aku tidak mau mati pelan-pelan,” kataku.
“Plastik tidak peduli mau atau tidak,” kata Dina.
Tubuhku semakin lemah. Dokter hanya bisa berkata, “Kurangi paparan. Tapi yang sudah masuk, sulit keluar.”
“Jadi aku menunggu?” tanyaku.
“Menunggu atau berubah,” katanya.
Aku tertawa pahit. “Berubah terlambat.”
Hari terakhirku, aku duduk di dapur.
“Kantong itu masih ada,” kataku.
“Iya,” kata Dina.
“Buanglah.”
“Aku akan daur ulang.”
“Maafkan aku,” kataku.
“Maaf tidak membersihkan sungai,” katanya sambil menangis. “Maaf menertawakan bahaya.”
Aku tersenyum lemah. “Setidaknya, cerita kita bisa jadi peringatan.”
Aku menutup mata.
Plastik tidak berteriak. Tidak menyerang. Tidak berdarah. Dia hanya ada. Di air yang kita minum. Di ikan yang kita makan. Di darah yang mengalir. Dia membunuh tanpa suara, tanpa amarah, tanpa terburu-buru.
Dan sebelum semuanya gelap, satu kalimat terngiang di kepalaku—konyol, sederhana, mengerikan:
“Plastik bukan sekadar sampah,” suara Dina bergema.
“Dia adalah masa depan yang kita racuni sendiri.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar