“Iya, Bu,” jawab Raka sambil menyelip di antara kerumunan Pasar Rejotangan yang padat oleh hari pasaran Legi.
Pasar itu seperti biasa: bau ikan asin, suara tawar-menawar, klakson motor yang memaksa lewat. Namun pagi itu, Raka merasa ada sesuatu yang tidak pas. Ia berhenti melangkah.
“Lho… lapak itu sejak kapan ada?” gumamnya.
Di ujung lorong pasar berdiri lapak kecil beratap kain cokelat kusam. Di sana duduk seorang pedagang tua, kurus, berambut putih, dengan sorot mata tenang tapi sulit dibaca.
Raka mendekat.
“Kakek jual apa?” tanyanya.
Orang tua itu tersenyum tipis.
“Barang yang pernah dicintai pemiliknya.”
“Barang bekas?”
“Bukan. Barang kenangan.”
Raka mengernyit. Di atas lapak, ada jam dinding tua, kain lurik, radio kecil, dan foto hitam-putih. Ia tercekat saat melihat jam kayu.
“Itu… jam Pak Darto, kan?” bisiknya.
Seorang ibu di sampingnya menarik lengannya.
“Jangan lama-lama di situ, Rak.”
“Kenapa, Bu?”
Ibu itu menelan ludah.
“Rasanya nggak enak.”
Raka menoleh ke lapak lagi. Pedagang tua itu menatapnya seolah sudah lama menunggu.
“Jam itu milik siapa?” tanya Raka.
“Orang yang tak lagi punya suara,” jawab sang pedagang.
“Boleh saya pegang?”
“Kalau kamu berani mengingat.”
Raka mengambil jam itu. Di baliknya ada goresan kecil. Ia membaca pelan.
“Darto—2009.”
“Itu tahun Pak Darto meninggal,” gumamnya.
“Rak!” seru temannya, Bima, dari kejauhan. “Ngapain bengong?”
“Bim, kamu kenal kakek ini?”
Bima menggeleng cepat.
“Enggak. Aneh. Aku nggak suka lihat matanya.”
“Kakek dari mana?” tanya Raka lagi.
Pedagang itu tidak menjawab. Ia hanya berkata,
“Aku datang kalau diingat.”
Pasar terus bergerak, tapi di sekitar lapak itu terasa sunyi. Beberapa orang melirik, lalu menjauh.
“Dia selalu ada tiap Legi,” bisik seorang pedagang ayam pada Raka.
“Selalu?”
“Entah sejak kapan. Tapi habis zuhur, hilang.”
Raka menelan rasa penasaran.
Saat zuhur lewat, lapak itu benar-benar kosong.
“Bim,” kata Raka sore harinya, “aku mau coba nunggu.”
“Ngapain? Orang aneh begitu.”
“Aku mau tahu ke mana dia pergi.”
Pasar bubar. Raka melihat sosok tua itu berjalan perlahan ke arah selatan desa.
“Hei, Kakek!” panggil Raka.
Pedagang itu berhenti.
“Kamu ikut?”
“Boleh?”
“Kalau kamu siap mendengar.”
Mereka melewati jalan sempit, sawah, dan akhirnya sampai di tanah kosong penuh ilalang. Di sana berdiri bangunan tua tanpa pintu.
“Ini apa?” tanya Raka.
“Dulu pasar,” jawab sang pedagang.
“Pasar lama.”
Raka terdiam.
“Yang kebakaran itu?”
Pedagang tua menatap tanah.
“Bukan kebakaran. Terkunci.”
“Orang-orang bilang korsleting.”
“Mereka bilang apa yang ingin mereka lupakan.”
Raka teringat cerita neneknya—tentang keributan, teriakan, dan pintu yang tak dibuka.
“Barang-barang itu…” suara Raka bergetar.
“Milik orang-orang yang mati di sini?”
Pedagang itu mengangguk.
“Aku menjaga agar mereka tak benar-benar hilang.”
“Siapa Kakek sebenarnya?”
Pedagang itu tersenyum.
“Penjual. Penjaga. Atau mungkin hanya ingatan.”
Angin berdesir. Saat Raka berkedip, lapangan itu kosong. Tak ada siapa-siapa.
Di tanah, tergeletak sebuah radio kecil.
Raka memungutnya. Di baliknya tertulis nama.
Sutrisno—Ayah Raka.
“Ini… punyaku?” bisiknya.
Radio itu menyala pelan, memutar lagu lama kesukaan ayahnya.
Raka berdiri lama di sana, sendirian.
Keesokan Legi berikutnya, pasar kembali ramai.
“Rak, kamu lihat kakek itu lagi?” tanya Bu Sarmi.
Raka menatap ujung lorong pasar yang kosong.
“Entah,” jawabnya pelan.
Di tasnya, radio kecil itu tersimpan rapi—sebuah kenangan yang memilih pulang, atau mungkin, belum selesai dijaga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar