Minggu, 04 Januari 2026

“Ngasinan: Dari Jejak Sejarah ke Riak Air yang Menguji Kota Trenggalek”

Kali Ngasinan bukan sekadar aliran air yang melewati Kabupaten Trenggalek — ia adalah salah satu elemen alam yang membentuk sejarah, kehidupan sosial, hingga tantangan ekologis masyarakat setempat. Sungai ini mengalir dari hulu wilayah Trenggalek dan menjadi salah satu jalur air utama di kawasan itu. Belum banyak tertulis secara rinci mengenai awal mula jalur sungai ini di catatan sejarah formal, tetapi alur sungai seperti Ngasinan telah menjadi bagian penting jalur pergerakan manusia kuno di wilayah Jawa Timur. Menurut catatan sejarah lokal, jalur-jalur sungai di kawasan Trenggalek dan sekitarnya telah menjadi rute pergerakan masyarakat sejak zaman prasejarah, termasuk hubungan rute dari Pacitan menuju Wajak di Tulungagung; dalam konteks ini, sungai-sungai seperti Ngasinan menjadi penanda lanskap yang hidup dan dipercaya menjadi jalur lintas budaya sejak lama. trenggalekkab.go.id

Namun, selain nilai sejarah sebagai bagian dari lanskap hidup masyarakat, Kali Ngasinan juga menjadi sumber ujian tersendiri khususnya saat musim hujan tiba. Berulang kali sungai ini meluap dan menyebabkan banjir di wilayah kota Trenggalek serta beberapa desa di sekitarnya. Pada Desember 2024, hujan deras memicu meluapnya sungai dan menyebabkan tanggul jebol, sehingga banjir merendam permukiman warga Kelurahan Kelutan dan Tamanan hingga mencapai 1–1,5 meter, serta memutus akses jalan nasional utama di Trenggalek. Antara News

Peristiwa serupa juga terjadi pada pertengahan Mei 2025, ketika hujan intensitas tinggi membuat sungai meluap dan tanggul di Dusun Temon, Desa Ngares jebol, sehingga puluhan kepala keluarga harus dievakuasi. Trenggaleknjenggelek.jawapos.com Tak jarang, air masuk ke rumah warga hingga jalan besar pun terendam dan membuat aktivitas warga serta layanan publik terganggu. detikcom Sementara itu, data penelitian menunjukkan bahwa wilayah Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Ngasinan memiliki lahan dataran rendah dan cekungan yang membuatnya rawan banjir, terutama pada musim penghujan ketika debit air naik tanpa dapat tertampung dengan baik. E-Journal Unesa

Peristiwa banjir bukan hal baru. Catatan terdahulu terkait banjir Sungai Ngasinan menunjukkan bahwa kejadian banjir akibat luapan sungai sudah tercatat sejak beberapa dekade lalu, misalnya banjir signifikan di tahun 2006 yang menyebabkan ribuan rumah terendam dan korban jiwa dalam jumlah puluhan. Kementerian Pendidikan Repository Dari sudut pandang masyarakat di pinggir sungai, aktivitas di sekitar Ngasinan juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sederhana namun bermakna, seperti kegiatan pengambilan pasir dari sungai yang sudah menjadi mata pencaharian puluhan tahun bagi beberapa keluarga di Desa Pogalan. kabartrenggalek.com

Permasalahan banjir di Kali Ngasinan tidak hanya berdampak pada rumah dan infrastruktur, tetapi juga pada lahan pertanian. Penelitian risiko banjir mengungkapkan bahwa banjir yang sering terjadi dapat menghambat produktivitas sawah dan lahan tegalan karena genangan air yang lama dan karakteristik aliran yang tak stabil. E-Journal Unesa Ini menunjukkan bahwa risiko banjir bukan sekadar persoalan genangan air, tetapi juga berdampak luas pada sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada tanah produksi.

Menyadari tantangan ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek (Pemkab) telah memandang persoalan sungai bukan hanya sebagai tantangan infrastruktur semata, tetapi juga masalah ekologis yang perlu pendekatan menyeluruh. Pada tahun-tahun terakhir, Pemkab bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan berbagai mitra telah memprioritaskan normalisasi sungai sebagai upaya strategis untuk mengantisipasi banjir musiman secara lebih efektif. ANTARA News Jawa Timur

Visi yang diusung pemerintah tidak hanya fokus pada pengerukan sungai fisik semata, tetapi juga menerapkan prinsip tata kelola sungai yang berkelanjutan dan manusiawi. Konsep yang dikembangkan termasuk penggunaan infrastruktur hijau — seperti penanaman vetiver, bambu, dan pepohonan lokal di sepanjang tebing sungai — yang berupaya memperkuat tanggul secara alami dan menciptakan ruang publik ramah lingkungan. ANTARA News Jawa Timur

Pendekatan ekologis ini sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa sungai bukan sekadar ancaman terhadap permukiman saat banjir terjadi, tetapi bisa menjadi berkah dan ruang hidup yang bermanfaat. Bupati Trenggalek berharap keterlibatan masyarakat dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap sungai dan lingkungan sekitarnya, sehingga upaya mitigasi bencana dan pelestarian alam berjalan seiring. ANTARA News Jawa Timur

Untuk mengurangi risiko banjir secara praktis, selain normalisasi tinggal di sungai, berbagai kegiatan rutin dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek bersama masyarakat, seperti pembersihan sungai dari sampah dan sedimen yang dapat menghambat aliran air. BPBD Trenggalek

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kerja kolektif ini perlu terus dipupuk. Banjir yang melanda kembali pada musim hujan masih sering merendam permukiman dan mengganggu kehidupan warga. Ini memperlihatkan bahwa tantangan ekologis sungai tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Perubahan iklim, pola penggunaan lahan, tata kota, serta pemahaman masyarakat terhadap fungsi sungai sangat menentukan bagaimana masyarakat Trenggalek bisa hidup beriringan dengan Kali Ngasinan ke depan.

Kesimpulan: Kali Ngasinan adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap sejarah dan kehidupan Trenggalek. Dari jalur pergerakan manusia kuno hingga riak banjir yang terus menguji daya tahan masyarakat, sungai ini menyimpan pelajaran penting tentang hubungan manusia dengan alam. Pandangan Pemerintah Trenggalek yang kini menggabungkan pendekatan infrastruktur dan ekologi menunjukkan bahwa mitigasi banjir bukan sekadar mengusir air, tetapi merawat sungai sebagai ruang hidup yang bersinergi dengan masyarakat dan lingkungan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar