Rabu, 05 November 2025

Harga Kambing Ambyar, Semangat Peternak Tak Pudar

Kalau Anda berkunjung ke pelosok Jawa Timur, coba saja berhenti di warung kopi dekat pasar hewan setiap pagi. Di sana, aroma kopi pahit bercampur bau kambing yang masih lembap karena embun. Di pojok warung, akan selalu ada obrolan khas para peternak:

“Lho, kambingku tak jual murah wae, Mas. Lha regone jebul nyungsep maneh!”

Semua tertawa pahit. Kopi ditambah gula, tapi nasib harga kambing tetap terasa getir.

Padahal, kalau bicara jumlah, Jawa Timur ini sudah kayak “gudangnya kambing nasional”. Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (2023) menunjukkan populasi kambing mencapai 3,11 juta ekor, tertinggi di Indonesia bagian barat. Artinya, setiap kali Anda jalan-jalan ke Lumajang, Bojonegoro, atau Tulungagung, ada kemungkinan lebih banyak kambing daripada warung bakso.

Namun ironinya, meski kambing makin banyak, harga malah turun. Ibarat pesta kambing besar-besaran, tapi pembelinya tidak datang.

Pasar Penuh, Dompet Tipis

Bayangkan suasananya: setiap minggu, para peternak menggiring kambing ke pasar. Suara “mbeeek” bersahut-sahutan, tali tambang bergoyang, dan debu beterbangan. Tapi begitu transaksi dimulai, wajah-wajah itu mendadak muram.

“Kemarin bisa laku 2,5 juta, saiki mung 1,8, Mas.”

Mengapa bisa begitu? Logikanya sederhana: supply berlebih, demand tetap. Menurut laporan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2023), Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan tingkat produksi ternak kambing tertinggi, namun pertumbuhan konsumsi daging kambing nasional masih di bawah 1% per tahun.

Artinya, pasokan terus naik, tetapi permintaan tidak mengimbangi. Saat tidak musim kurban, kambing-kambing itu seolah jadi “stok berlebih” di kandang, menunggu pembeli yang belum tentu datang.

Peneliti dari Universitas Brawijaya (2022) dalam jurnal Jurnal Agrisocionomic juga menyebutkan, harga kambing di pasar tradisional Jawa Timur sangat fluktuatif, terutama karena permintaan musiman Idul Adha dan penjualan cepat akibat kenaikan harga pakan.

Dulu Rejeki dari Ijuk, Sekarang dari Kosan Mahasiswa

Kalau kita kilas balik, dua puluh tahun lalu banyak warga desa menggantungkan hidup dari kerajinan keset dan sapu ijuk. Sekarang? Banyak yang beralih jadi pemilik kos, tukang laundry, atau jualan pakan.

Data dari penelitian Swara Bhumi Journal (UNESA, 2019) menunjukkan bahwa pengrajin keset di Tulungagung menurun sekitar 30% dalam satu dekade terakhir karena pergeseran minat dan daya beli. Peternakan kambing sebenarnya masih jadi kebanggaan, tapi tidak sedikit yang mulai lelah. “Rawatnya susah, regone murah,” begitu keluhannya.

Akibatnya, sebagian peternak mulai menjual kambing lebih cepat agar tak menanggung biaya pakan. Masalahnya, ketika banyak orang berpikir begitu, ya jadinya harga makin ambruk.

Lucunya, para peternak sering membandingkan kambing dengan cabe rawit:

“Lha iki piye, Mas, cabe kiloan wae iso nyentuh 100 ribu, kambing sak ekor malah ora tekan 2 juta. Padahal ngopeni cabe mung sebulan, kambing butuh setahun.”

Semua tertawa getir lagi.

Pakan Mahal, Tapi Harga Tetap Ngambek

Faktor lain yang bikin peternak mengelus dada adalah harga pakan. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP, 2022), kenaikan harga hijauan dan konsentrat ternak mencapai 20–25% dalam dua tahun terakhir karena berkurangnya lahan hijau dan mahalnya ongkos distribusi.

“Kadang iso golek rumput, kadang mung golek sabar,” kata Pak Toha, peternak di Trenggalek, sambil tersenyum miris.

Anehnya, meskipun biaya perawatan naik, harga kambing tetap ogah naik. Peternak pun mulai kreatif: sebagian membuat pakan fermentasi, sebagian lagi mencoba sistem kandang koloni supaya efisien. Ada juga yang memanfaatkan media sosial — jual kambing lewat Facebook dan TikTok. Katanya, kalau bisa jualan jilbab online, kambing pun bisa dijual dengan gaya kekinian.

Masalah Lama: Impor dan Arah Pasar

Sementara itu, di level kebijakan, persoalan lain muncul: impor daging kambing dan domba. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2022), Indonesia masih membuka impor terbatas untuk memenuhi kebutuhan industri hotel dan restoran, yang menyebabkan harga karkas lokal ikut tertekan.

Lalu siapa yang kena dampak? Ya tentu para peternak kecil. Mereka yang hanya punya 5–10 ekor harus menunggu lebih lama untuk menjual ternaknya dengan harga layak.

Masalah ini sebenarnya bisa diatasi jika ada kebijakan yang berpihak — misalnya pengaturan stok, dukungan pakan, dan promosi daging lokal. Tapi seperti kambing yang sedang dikandangi, suara peternak sering “mbeeek” di udara — terdengar, tapi jarang sampai ke meja kebijakan.

Dari Kandang ke Masa Depan

Meski begitu, bukan berarti dunia per-kambingan Jawa Timur suram. Ada sinar harapan dari generasi muda peternak milenial. Data Dinas Peternakan Jatim (2023) mencatat meningkatnya peternak muda yang menggunakan sistem smart farming, pakan terukur, dan penjualan digital.

Beberapa startup agrikultur lokal bahkan sudah menyiapkan platform investasi kambing daring — semacam “kandang virtual”, di mana investor kota ikut menanam modal di peternakan desa. Ini menunjukkan bahwa kambing bukan hanya urusan bau kandang, tapi juga peluang ekonomi digital yang nyata.

Kambing dan Filosofi Hidup Jawa Timur

Bagi orang Jawa Timur, kambing bukan cuma hewan ternak. Ia simbol kesabaran, kerja keras, dan... sedikit keras kepala juga. Bayangkan, setiap pagi peternak berangkat ke kandang, menyiapkan rumput, membersihkan kotoran, dan tetap tersenyum walau harga belum naik.

Itulah ketulusan yang sering tak muncul di grafik ekonomi.

Seorang peternak di Nganjuk pernah berkata sambil tertawa:

“Kambing itu mirip hidup. Kadang digiring, kadang menanduk, tapi kalau sabar, pasti bisa dijual juga.”

Kalimat sederhana tapi mengandung kearifan mendalam: rezeki memang tidak selalu besar, tapi selalu cukup bagi yang sabar dan telaten.

Penutup: Jangan Takut Jadi Peternak yang Optimis

Harga kambing boleh turun, tapi semangat jangan ikut merosot. Jawa Timur tetap punya modal luar biasa: tanah subur, manusia pekerja keras, dan tradisi beternak yang kuat.

Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar menunggu harga naik, tapi membangun strategi bersama: koperasi peternak, inovasi pakan, dan pemasaran digital. Karena di era ini, yang menang bukan yang punya kambing paling banyak, tapi yang tahu cara menjualnya dengan cerdas.

Jadi, kalau suatu hari Anda melihat peternak tersenyum sambil menggiring kambingnya, jangan heran. Bisa jadi ia baru saja menjual lewat TikTok Shop — dan mungkin, itu awal dari kebangkitan ekonomi kandang Jawa Timur.

Referensi:

  • Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Statistik Peternakan 2023.

  • Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Laporan Produksi dan Konsumsi Daging Nasional 2023.

  • Swara Bhumi Journal (UNESA), Penurunan Pengrajin Keset di Tulungagung, Vol. 5 No. 2 (2019).

  • BPTP Jawa Timur, Tren Harga Hijauan dan Pakan Ternak 2022.

  • Kementerian Pertanian RI, Outlook Komoditas Peternakan 2022.

  • Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Profil Peternak Milenial Jawa Timur 2023.

  • Jurnal Agrisocionomic (Universitas Brawijaya), Fluktuasi Harga Kambing di Jawa Timur, Vol. 11 No. 3 (2022).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar