Rabu, 05 November 2025

“Plosokandang Tak Lagi Sepi: Ketika Desa Bertemu Dunia Kampus”

Dua puluh tahun lalu, Plosokandang adalah sebuah desa yang cenderung sunyi menjelang malam. Saat senja tiba, jalan desa mulai sepi, lampu kos nyaris tak terlihat, dan sebagian besar warga masih berkutat di sawah atau usaha kerajinan rumahan. Kini, ketika malam datang, lampu-kos, warung kopi kecil, dan motor mahasiswa menjadi pemandangan biasa di tepi jalan desa.

Dari jumlah penduduk hingga peluang usaha

Sekitar tahun 2016 terdata jumlah penduduk Plosokandang sebanyak 8.120 jiwa (3.943 laki-laki dan 4.177 perempuan). (tulungagungkab.bps.go.id) Jika dibandingkan dengan dua dekade lalu, meskipun angka pasti sulit diperoleh, narasi warga menyebut bahwa jumlah kos dan rumah sewa mahasiswa meningkat signifikan sejak kampus IAIN Tulungagung/UIN SATU Tulungagung berkembang. Penelitian menunjukkan bahwa “perkembangan kampus … akan meningkatkan peluang usaha untuk masyarakat di sekitar kampus baik usaha fotocopy, laundry, maupun bisnis makanan.” (Academia)

Dulu, usaha utama warga banyak di kerajinan keset dan sapu ijuk; namun penelitian mencatat penurunan jumlah pengrajin di Plosokandang: dari 30 pengrajin yang diteliti, hanya 21 masih aktif dan 9 sudah berhenti. (Ejournal Unesa) Itu berarti, dua puluh tahun silam kerajinan itu mungkin lebih dominan, sedangkan kini ekonomi desa makin terdiversifikasi ke sektor jasa dan kos-kosan.

Suasana kehidupan sehari-hari yang berubah

Pada pagi hari dua dekade lalu, terdengar suara burung dan aktivitas petani di sawah; sekarang, aktivitas mahasiswa datang dan pergi, warung kopi buka lebih pagi, dan banyak rumah warga berubah fungsi menjadi rumah kos. Misalnya penelitian menyebut tabel data pemilik kos dan jumlah kamar di Plosokandang sebagai bagian perubahan ekonomi lokal. (repo.uinsatu.ac.id)

Warga tua mengenang bahwa dahulu belum ada laundry khusus mahasiswa, warung 24 jam, atau operator internet rumah. Sekarang, anak muda desa bisa mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai penjaga kos, juru antar makanan, atau pelayan warung kopi yang melayani mahasiswa.

Dampak sosial & ekonomi

Tafsir sosial: perubahan ini membawa kehangatan ekonomi baru — namun juga tantangan. Munculnya kos-kosan berarti warga luar masuk ke desa, lalu budaya lokal sedikit bergeser. Sebagai contoh, pola kerajinan tradisional menurun karena generasi muda lebih tertarik ke usaha yang lebih cepat hasilnya, seperti kos atau jasa. Penelitian menyebut persaingan dan bahan baku sebagai faktor penurunan pengrajin keset dan sapu ijuk. (Ejournal Unesa)

Di sisi lain, peningkatan ekonomi jasa menandai bahwa desa kini “tak lagi sepi”. Kehadiran mahasiswa membawa uang sirkulasi lokal, menciptakan warung-warung kecil, layanan laundry, fotokopi, dan sebagainya. Ini artinya ada momentum transformasi bagi Plosokandang untuk naik kelas dari desa agraris ke desa jasa-pendukung kampus.

Tantangan ke depan

Meski ramai, desa tidak bisa berhenti di “ramai karena kampus”. Perlu ada pengelolaan agar pertumbuhan tetap berkelanjutan. Misalnya, pelatihan pengelolaan keuangan untuk UMKM desa masih diperlukan. Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa UMKM di Plosokandang “masih menghadapi berbagai hambatan struktural” meski potensi besar. (journal.unuha.ac.id)

Warga dan pengurus desa perlu menata zona kos-kosan, menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak merusak kenyamanan hidup warga lama. Selain itu, tradisi kerajinan lokal pun bisa direvitalisasi sebagai pelengkap ekonomi jasa, agar keberagaman ekonomi tetap ada.

Penutup

Plosokandang hari ini adalah potret perubahan: dari desa yang sunyi menjadi titik pertemuan antara dunia kampus dan keberanian ekonomi baru. Meski data historis lengkap susah ditemukan, penelitian menunjukkan jelas bahwa peluang usaha meningkat dan kerajinan tradisional mengalami penurunan. Warga desa di tengah arus perubahan ini punya pilihan: hanya menjadi penonton atau menjadi pelaku aktif. Dengan bijak mengelola momentum, Plosokandang bukan hanya “ramai”, tetapi juga makin sejahtera dan lestari secara sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar