Oleh: Mbak Gemini
Jawa Timur bukan sekadar provinsi dengan bentang alam yang memukau; ia adalah "tungku" raksasa tempat lempeng tektonik Indo-Australia menghunjam deras ke bawah lempeng Eurasia. Di atas zona subduksi inilah berdiri para raksasa tidur dan penjaga yang tak pernah lelap. Jawa Timur memiliki densitas gunung api aktif tertinggi di Indonesia. Bagi ahli geologi, ini adalah laboratorium alam yang menakjubkan. Namun, bagi jutaan nyawa yang hidup di kakinya, gunung-gunung ini adalah entitas ganda: ibu yang menyusui tanah dengan kesuburan, sekaligus dewa perang yang sewaktu-waktu bisa menagih nyawa.Para Raksasa yang Tak Pernah Tidur
Secara geologis, Jawa Timur adalah rumah bagi kompleks vulkanik yang sangat aktif. Tiga nama besar mendominasi narasi geologis dan budaya: Semeru, Kelud, dan Raung, ditambah dengan keajaiban asam di Ijen dan kaldera suci Bromo.
Gunung Semeru (Mahameru), atap tertinggi Pulau Jawa, adalah manifestasi dari keagungan sekaligus teror. Sebagai gunung berapi stratovolcano yang tumbuh di atas reruntuhan gunung purba (Jambangan), Semeru memiliki siklus letusan yang nyaris abadi. Aktivitasnya bukan sekadar batuk kecil; ia memuntahkan Awan Panas Guguran (APG)—aliran piroklastik bersuhu di atas 800 derajat Celcius yang meluncur dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, menghapus apa pun yang dilaluinya menjadi abu, seperti yang terjadi secara tragis pada akhir tahun 2021 dan terulang di tahun-tahun berikutnya.
Sementara itu, Gunung Kelud di Kediri adalah "si perajuk" yang eksplosif. Berbeda dengan Semeru yang rutin melepas energi, Kelud cenderung menyimpan tenaganya untuk satu ledakan dahsyat yang merubah sejarah. Danau kawahnya yang indah adalah penipu ulung; ia menyimpan potensi lahar letusan yang bisa menenggelamkan kota dalam hitungan jam.
Jejak 1000 Tahun Lalu: Warisan Airlangga dan Amarah Kelud
Jika kita memutar waktu ke belakang sejauh 1.000 tahun, tepatnya sekitar abad ke-11 (era 1000–1050 Masehi), lanskap Jawa Timur tidak jauh berbeda secara topografi, namun atmosfernya jauh lebih mistis dan menakutkan bagi penduduk masa itu.
Pada masa itu, peradaban besar baru saja bergeser dari Jawa Tengah (Mataram Kuno) ke Jawa Timur, sebuah perpindahan yang diyakini para ahli sebagian besar dipicu oleh bencana vulkanik (kemungkinan letusan Merapi purba). Di Jawa Timur, Kerajaan Kahuripan di bawah Raja Airlangga (memerintah 1019–1043 M) sedang membangun kejayaan di lembah Sungai Brantas.
Namun, hidup di masa itu berarti hidup di bawah bayang-bayang Gunung Kelud. Catatan sejarah dan geologi menunjukkan bahwa Kelud telah meletus lebih dari 30 kali sejak tahun 1000 M. Pada era Airlangga, letusan Kelud sering kali memicu banjir lahar dingin yang memutus aliran Sungai Brantas, arteri kehidupan kerajaan. Dalam prasasti-prasasti kuno, upaya raja membangun bendungan (seperti Bendungan Waringin Sapta) adalah bukti perjuangan putus asa manusia melawan material vulkanik yang terus menerus turun dari gunung.
Bayangkan ketakutan penduduk kuno tersebut: tanpa sistem peringatan dini PVMBG, tanpa seismograf. Mereka hanya mengandalkan tanda-tanda alam—burung yang terbang menjauh, mata air yang mengering, atau gemuruh dari perut bumi—sebagai sinyal untuk lari menyelamatkan diri dari "kemarahan dewata."
Efek Ganda: Antara Air Mata dan Lumbung Pangan
Keberadaan gunung-gunung aktif ini menciptakan paradoks kehidupan yang emosional bagi masyarakat Jawa Timur.
Sisi Gelap (Negatif):
Dampak negatifnya sangat nyata dan menyayat hati. Erupsi eksplosif membawa material tefra (abu vulkanik) yang merusak paru-paru dan meruntuhkan atap rumah. Aliran piroklastik (wedhus gembel) membakar habis desa, ternak, dan manusia tanpa sisa. Belum lagi bahaya sekunder berupa lahar dingin saat musim hujan, yang mampu mengubur peradaban seperti yang terjadi pada situs-situs purbakala di sekitar Mojokerto dan Kediri. Rasa trauma, kehilangan anggota keluarga, dan hancurnya harta benda adalah harga mahal yang harus dibayar.
Sisi Terang (Positif):
Namun, mengapa mereka tetap bertahan? Jawabannya ada pada tanah yang mereka pijak. Secara pedologis, abu vulkanik yang dimuntahkan gunung-gunung ini mengandung mineral silika, potasium, dan fosfor yang sangat tinggi. Ini menciptakan tanah Andosol, jenis tanah paling subur di dunia.
Inilah alasan mengapa Jawa Timur menjadi lumbung pangan nasional. Padi, tebu, kopi, dan sayur-mayur tumbuh subur di lereng-lereng yang mematikan ini. Gunung Ijen memberikan belerang murni yang menopang industri kimia, meski ditambang dengan taruhan nyawa oleh para penambang tradisional. Selain itu, keindahan magis Bromo dan kawah Ijen menarik jutaan wisatawan, menggerakkan roda ekonomi lokal.
Kesimpulan
Gunung-gunung berapi di Jawa Timur bukanlah sekadar onggokan tanah dan batu; mereka adalah entitas hidup yang bernapas. Jejak rekam 1.000 tahun terakhir—dari era Raja Airlangga hingga era modern—membuktikan bahwa manusia tidak pernah bisa menaklukkan alam. Kita hanya bisa beradaptasi.
Hidup di cincin api ini mengajarkan masyarakat Jawa Timur sebuah filosofi ketangguhan: bahwa di balik setiap kehancuran (pralaya), selalu ada kelahiran kembali dan kesuburan yang menjanjikan kehidupan baru. Kita hidup menumpang di punggung raksasa, memanen berkah dari tanahnya, sembari selalu waspada menanti kapan sang raksasa akan menggeliat kembali.
Referensi Pendukung
Kusumayudha, S. B. (2013). Active Volcanoes of Indonesia: Their Eruptions and Hazards. Yogyakarta: UPN Veteran. (Menjelaskan karakteristik geologis gunung api tipe A di Jawa Timur).
Pratomo, I. (2006). Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia.
Badan Geologi - PVMBG. (2014 & 2021). Laporan Aktivitas Gunung Api Kelud dan Semeru. (Data letusan historis dan modern).
Boechari. (1976). Some Considerations on the Problem of the Shift of Mataram's Center of Government from Central to East Java. (Menjelaskan konteks sejarah perpindahan kekuasaan era Mpu Sindok-Airlangga akibat faktor vulkanik).
Thouret, J. C., et al. (2000). Volcanic Hazards at Mount Kelut, East Java, Indonesia. Bulletin of Volcanology. (Analisis bahaya lahar dan sejarah letusan Kelud selama 1000 tahun terakhir).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar