Rabu, 19 November 2025

Telur Dadar Mewah dan Jeritan Dompet Emak: Drama Asmara MBG yang Bikin Galau

Oleh: Pengamat Ekonomi Jalur Pasar Becek

Mari kita jujur sejenak. Siapa, sih, di negeri ini yang tidak suka kata "Gratis"? Apalagi kalau diikuti dengan kata "Makan" dan "Bergizi". Rasanya seperti mendengar pengumuman libur panjang di hari Senin—indah, menyejukkan hati, dan penuh harapan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir bak pangeran berkuda putih yang ingin menyelamatkan generasi penerus bangsa dari ancaman stunting dan gizi buruk. Mulia sekali, bukan? Kita semua sepakat, anak-anak Indonesia harus cerdas, kuat, dan tidak mudah mengantuk di kelas jam 10 pagi.

Namun, seperti halnya drama Korea yang plotnya tidak pernah semulus jalan tol, ada harga yang harus dibayar di balik romansa makan gratis ini. Dan harga itu, Saudara-saudara, kemungkinan besar akan tertera di struk belanjaan kita sehari-hari. Jika program ini terus berlanjut dengan gas pol tanpa rem yang pakem, kita sedang bersiap menaiki roller coaster harga pangan yang mungkin akan membuat jantung berdebar lebih kencang daripada ketemu mantan.

Telur yang Tiba-tiba "Naik Kasta"

Hal pertama yang akan terjadi adalah fenomena yang oleh para ekonom disebut dengan istilah keren Demand-Pull Inflation. Tapi dalam bahasa kita sehari-hari, ini artinya: "Yang mau beli banyak, barangnya segitu-gitu aja."

Bayangkan jutaan butir telur yang biasanya nongkrong santai di rak minimarket atau ditumpuk di warung kelontong, tiba-tiba "dibajak" massal setiap pagi untuk masuk ke kotak bekal sekolah. Ayam-ayam petelur kita mungkin akan mengalami burnout karena dipaksa lembur mengejar target produksi nasional.

Riset dari INDEF (2024) sudah mewanti-wanti soal ini. Ketika permintaan telur melonjak drastis untuk memenuhi kebutuhan protein hewani program MBG, dan di sisi lain produktivitas ayam petelur kita naiknya selambat koneksi internet saat hujan, maka hukum alam berlaku: harga akan terbang. Telur dadar yang dulu adalah menu tanggal tua bagi anak kos, bisa jadi akan berubah status menjadi menu mewah setara steak bagi sebagian orang. Emak-emak yang biasa beli sekilo isi 16 butir dengan harga damai, mungkin harus siap-siap mengelus dada (dan dompet) saat harganya meroket.

"Hunger Games" di Pasar Pagi

Skenario kedua lebih menegangkan: Kelangkaan di tingkat ritel. Bayangkan sebuah pagi yang cerah di pasar tradisional. Anda berniat membeli bayam dan wortel untuk sup. Tapi ternyata, lapak sayur langganan Anda kosong melompong. "Maaf Bu, sudah diborong sama Dapur Umum MBG jam 4 subuh tadi," kata pedagangnya.

Ini bukan fiksi ilmiah. IDEAS (2024) menyoroti risiko rebutan stok antara kebutuhan rumah tangga biasa dengan kebutuhan raksasa program negara. Jika rantai pasok tidak dibenahi, pasar tradisional akan menjadi arena battle royale. Negara punya duit (dari APBN), sementara kita punya anggaran belanja yang pas-pasan. Siapa yang menang? Tentu yang belinya partai besar. Akibatnya, sayur mayur menjadi barang langka bagi rakyat jelata, dan kelangkaan adalah sahabat karib dari kenaikan harga.

Petani: Antara Senyum Lebar dan Harap-Harap Cemas

Namun, jangan pesimis dulu. Di tengah mendungnya ramalan harga bagi konsumen, ada secercah cahaya surga bagi para pahlawan pangan kita: Petani dan Peternak.

Selama ini, nasib petani kita seringkali tragis. Tanam padi sepenuh hati, pas panen raya harganya jatuh sampai sakit hati. Nah, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan bahwa MBG bisa berfungsi sebagai off-taker atau pembeli siaga. Ini ibarat petani akhirnya punya pacar setia yang berjanji, "Tenang Mas, berapapun hasil panenmu, akan Neng beli buat makan anak-anak sekolah."

Jika—dan ini "jika" yang besar—skemanya benar-benar memberdayakan dapur lokal dan petani lokal, maka harga di tingkat petani (farm gate) akan stabil dan menguntungkan. Tidak ada lagi cerita tomat dibuang ke jalan karena harganya hancur. Tapi, bagi kita konsumen akhir, ini berarti era "sayur murah meriah muntah" mungkin akan berakhir. Kita harus rela membayar sedikit lebih mahal demi kesejahteraan petani. Ikhlas, kan? (Jawab dalam hati saja sambil lihat isi dompet).

Jebakan Batman Bernama Impor

Masalahnya menjadi sedikit runyam ketika kita bicara soal kapasitas nasional. Niat hati ingin swasembada, apa daya sapi perah kita belum cukup banyak untuk membanjiri sekolah dengan susu setiap hari. Beras pun kadang masih megap-megap jika cuaca sedang moody.

Ujung-ujungnya? Impor. Kalau produksi dalam negeri tidak cukup, keran impor beras, daging, dan susu akan dibuka lebar-lebar. Apa dampaknya ke harga sembako? Harga pangan kita jadi "bipolar"—sangat sensitif terhadap perubahan suasana hati kurs Rupiah terhadap Dolar. Kalau Dolar mengamuk, harga tempe (yang kedelainya impor) dan beras impor akan ikut menggila. Kita jadi tidak berdaulat di piring makan sendiri.

Normalisasi "Mahal" (HET Baru)

Terakhir, kita harus bersiap menghadapi kenyataan pahit: Penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET). Ketika permintaan tinggi terus-menerus terjadi, harga akan membentuk keseimbangan baru. Pemerintah mungkin terpaksa menaikkan HET beras dan minyak goreng agar tidak terjadi pasar gelap.

Apa artinya? Artinya, harga yang kita anggap "mahal" hari ini, tahun depan akan kita sebut "harga normal". Standar murah kita akan dipaksa naik kelas, meski gaji mungkin naiknya masih malu-malu kucing.

Kesimpulan: Siapkan Mental (dan Tabungan)

Pada akhirnya, MBG adalah program dengan niat yang sangat mulia. Kita semua ingin melihat anak-anak Indonesia tumbuh tinggi, sehat, dan pintar. Tapi, seperti kata pepatah ekonomi klasik, there is no such thing as a free lunch. Makan siang gratis itu dibayar oleh banyak hal: anggaran negara, kerja keras petani, dan kemungkinan besar, inflasi harga pangan yang harus ditanggung oleh seluruh rumah tangga di Indonesia.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Mungkin mulai sekarang, selain berdoa agar anak-anak sehat, kita juga perlu berdoa agar ayam-ayam petelur di Indonesia diberikan kesehatan prima untuk bertelur tiga kali lipat lebih banyak. Dan bagi para ibu rumah tangga, mari siapkan jurus tawar-menawar yang lebih maut, karena pertarungan di pasar tahun depan sepertinya akan semakin sengit.

Selamat datang di era baru, di mana gizi anak terjamin, tapi jantung orang tua sering dag-dig-dug melihat harga telur.

Referensi Pendukung:

INDEF. (2024). Riset mengenai risiko inflasi pangan akibat lonjakan permintaan mendadak.
IDEAS. (2024). Analisis proyeksi anggaran dan potensi kelangkaan pasokan di tingkat ritel.
Bapanas. (2024). Strategi stabilisasi harga pangan dan peran off-taker pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar