Lampu motor menembus gelap tapi hanya sejauh itu, selebihnya hitam pekat seperti dinding besar yang siap menelan.
“Semoga aja nggak ada apa-apa,” katanya, mencoba menyemangati diri.
Baru sepuluh menit melaju, Raga mendengar sesuatu dari pepohonan.
“Tok… tok… tok…”
Ia menoleh kiri–kanan. “Batre kaca helmku bunyi? Atau apa itu?” gumamnya. Tapi suara itu tak muncul lagi.
Ia menambah kecepatan.
Di tikungan tajam pertama, hawa tiba-tiba berubah. Lampu motornya meredup seolah ada tangan tak terlihat yang memutar saklar. Angin laut yang tadi lembut berubah berat, membawa aroma tanah basah seperti selesai diguyur hujan, padahal langit jernih.
“Kenapa kok berubah gini, ya?” desis Raga.
Motor tetap melaju. Sampai ia mencapai tikungan paling sunyi—orang biasa menyebutnya “tekuk mati”. Dari kejauhan, ia melihat sesuatu.
Sebuah sosok putih. Berdiri tepat di tengah jalan. Membelakanginya. Diam. Kaku.
Raga langsung mengerem.
“Sial… apa itu? Orang? Kain? Pohon?” Ia mencoba fokus, tetapi sosok itu tidak bergerak sedikit pun. Rambut panjangnya tertiup tipis oleh angin.
Raga mencoba mengambil napas dalam.
“O… oi! Mba? Mas? Ada apa di situ?” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Motor bergeming di tanah berpasir. Raga menyalakan lampu jauh—sosok itu tetap putih, tetap bulat di bagian tubuh, tetap membelakangi.
“Jangan-jangan orang kecelakaan… atau butuh bantuan?” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.
Tapi jantungnya berdetak cepat. Telapak tangan mulai berkeringat meski udara dingin.
Ia mencoba bicara lagi.
“Mba? Perlu bantuan? Kalau butuh anter pulang bilang aja…”
Sosok itu tetap diam.
Aroma tanah basah makin menyengat. Angin tak lagi seperti laut—malah seperti hembusan dari liang batu.
Raga menggeser motornya perlahan, mendekat satu meter.
“Mba? Saya cuma mau—”
Sosok itu bergerak.
Pelan.
Kepala itu menunduk… lalu berputar ke arah Raga tanpa menggerakkan tubuh.
Raga membeku.
Wajah pucat itu tampak sayup oleh lampu motor, mata hitam legam tanpa pantulan, dan bibir yang seperti pernah dijahit.
“Mas… tolong antar saya pulang…” suara perempuan itu pecah seperti bisikan angin masuk ke gendang telinga.
Raga mundur selangkah.
“P… pulang ke mana?”
“Ke tempat saya… Saya sudah menunggu lama…” Suara itu semakin jelas. “Sangat lama…”
“Maaf, saya nggak ngerti… kalau Mba butuh bantuan, saya bisa telepon warga atau nelayan…”
Wanita itu mulai berjalan perlahan—bukan gerakan manusia biasa, tapi seperti meluncur.
Raga meraih helm, memasangnya, bersiap kabur.
“Maafkan saya, Mba. Saya nggak bisa—”
“Tunggu,” wanita itu memotong.
Tapi Raga memutar gas, motor melesat melewati bahu jalan, hampir terperosok. Ia tidak menoleh. Hanya suara perempuan itu yang menjerit lirih:
“Sudah kutunggu… jangan pergi…”
Raga tak berhenti sampai ia mencapai warung kecil yang masih menyala lampunya—warung Pak Tarmo, satu-satunya tempat hidup di tengah jalur itu.
Pak Tarmo yang sedang menutup kios terkejut melihat Raga datang seperti habis dikejar sesuatu.
“Lho, Rag? Kenapa? Wajahmu pucat gitu?”
“Pak… saya… tadi lihat… ada perempuan berdiri di tengah jalan…”
Pak Tarmo langsung menatap serius.
“Wujud putih?”
Raga mengangguk.
“Rambut panjang, berdiri membelakangi?” tanya Pak Tarmo lagi.
“I-iya…”
“Ngomong minta diantar pulang?”
Raga tercekat. “Iya, Pak. Bapak tau?”
Pak Tarmo menarik napas panjang. “Masuk dulu. Tutupin pintu.”
Raga masuk. Warung itu kecil, hanya ada dua kursi plastik dan satu meja kayu. Aroma kopi hitam mengisi ruangan.
“Rag,” kata Pak Tarmo lirih, “kamu ketemu dia.”
“Dia siapa, Pak?”
“Orang-orang sini nyebutnya Mbakyu Popoh.”
“Mbakyu… Popoh?”
Pak Tarmo menyalakan lampu tambahan, memperjelas wajah khawatirnya.
“Dia pernah hidup. Ceritanya sudah puluhan tahun. Kabarnya dia pulang lewat jalan itu waktu badai. Motornya jatuh ke jurang. Seminggu dicari nggak ketemu. Saat akhirnya ditemukan… tubuhnya sudah tidak utuh. Sejak itu, banyak yang lihat wujud putih berdiri menunggu orang lewat.”
Raga menelan ludah.
“Saya kira cuma cerita masyarakat untuk nakut-nakutin anak kecil, Pak…”
Pak Tarmo menggeleng. “Banyak yang melihat. Banyak juga yang diganggu. Ada yang jatuh, ada yang hilang ingatan, ada yang pulang bicara ngawur. Kamu masih beruntung bisa kabur.”
Raga menunduk. “Tadi saya dengar dia bilang ‘menunggu lama’.”
“Itu ucapannya sejak dulu. Katanya dia menunggu seseorang. Entah siapa. Tidak ada yang tahu pasti.”
Raga menghela napas. “Terus kalau saya ketemu lagi gimana, Pak?”
“Jangan jawab ajakannya. Jangan tanya namanya. Jangan berhenti kalau dia berdiri di tengah jalan. Lebih baik memutar balik.”
Raga mengangguk.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara:
“Tuk… tuk… tuk…”
Raga membelalak. “Pak… itu suara tadi…”
Pak Tarmo mematikan lampu warung. “Diam.”
Raga menahan napas.
Suara itu muncul lagi.
“Tuk… tuk… tuk…”
Seperti bunyi sesuatu yang mengetuk kaca. Atau… kuku menekan dinding seng.
Pak Tarmo mendekat ke jendela kecil, mengintip pelan. Raga ikut mengendap.
Di luar hanya gelap.
Namun ada bayangan panjang di tanah. Bayangan rambut panjang dan baju putih berkibar.
Raga mundur. “Pak… dia nyari saya?”
“Ssst… jangan bersuara.”
Bayangan itu tidak bergerak. Tapi semakin lama semakin terlihat jelas… semakin dekat… sampai ujung pakaiannya terlihat lewat sela papan warung.
Suara lirih muncul di telinga Raga—padahal jaraknya masih beberapa meter.
“Mas… kamu lari? Kenapa lari?”
Raga langsung memegang lengan Pak Tarmo.
“Pak… dia tahu saya di sini…”
Pak Tarmo menggenggam tasbihnya. “Tenang. Dia cuma cari. Jangan balas, jangan sahuti.”
Raga menggigit bibir, menahan suaranya. Tapi suara itu muncul lagi, lebih dekat, lebih menusuk.
“Mas… kamu belum antar saya pulang…”
“Saya nggak kuat, Pak,” bisik Raga, gemetar.
“Tutup telingamu. Jangan lihat jendela.”
Raga menutup telinga.
Namun suara itu tetap menembus.
“Sudah lama… sangat lama…”
Cahaya lampu luar warung meredup. Angin berputar seperti pusaran kecil. Papan warung bergetar.
Lalu… semua hening.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada suara ketukan lagi.
Pak Tarmo membuka jendela. “Dia sudah pergi.”
Raga terduduk, lemas.
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Pak Tarmo membuatkan kopi hangat.
“Kamu istirahat sini dulu. Jangan pulang sekarang.”
“Tapi orang rumah—”
“Jam segini lewat jalan itu lagi? Jangan.”
Raga akhirnya mengangguk.
Saat mereka duduk, Pak Tarmo berkata, “Sebetulnya ada cerita yang jarang orang tau.”
“Apa, Pak?”
“Katanya dia menunggu seseorang yang pernah menjanjikan untuk mengantar dia pulang waktu masih hidup. Lelaki itu tak pernah menepati janji itu.”
Raga mengernyit. “Terus… dia pikir saya orang itu?”
“Mungkin dia lihat kemiripan. Mungkin energimu cocok. Atau mungkin dia cuma butuh seseorang untuk menemaninya.”
Raga merinding.
Pak Tarmo melanjutkan, “Ada juga yang bilang dia bukan menunggu diantar pulang… tapi ingin mengajak pulang.”
“Ke mana, Pak?”
“Ke tempat terakhir dia ditemukan.”
Raga menatap gelas kopinya tanpa berani menanyakan lebih jauh.
Sekitar pukul dua dini hari, angin kembali normal. Aroma asin dari laut mengalir lembut seperti semula.
“Rag,” kata Pak Tarmo, “kamu ikut saya saja pulang ke desa. Besok pagi baru pulang ke rumahmu.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Mereka menutup warung dan berangkat menggunakan motor Pak Tarmo. Jalanan tetap gelap, tetapi terasa lebih hidup karena ditemani suara mesin dan langkah-langkah kecil hewan malam.
Setibanya di desa, Raga tidur di rumah Pak Tarmo. Namun saat ia nyaris terlelap, ia mendengar bisikan pelan di telinganya:
“Mas… saya masih menunggu…”
Raga terbangun. Ruangan kosong. Pak Tarmo sudah tertidur di ranjang sebelah.
Raga menelan ludah.
“Aku ajaib bisa selamat…” katanya lirih.
Tapi ia tahu betul satu hal:
Apa pun yang berdiri di tikungan menuju Popoh tadi… belum selesai dengannya.
Dan sejak malam itu, setiap kali melewati jalur Popoh—siang atau malam—Raga selalu merasa ada yang berjalan di belakang motornya. Kadang ia mendengar bisikan samar. Kadang ia mencium aroma tanah basah padahal cuaca cerah.
Kadang… ia melihat bayangan putih melintas di spion.
Seperti seseorang yang masih menunggu pulang.
Atau… menunggu dia memenuhi janji yang tidak pernah ia buat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar