Rabu, 03 Desember 2025

Bisikan dari Lereng Wilis

Ardan menatap jalan menanjak yang berkelok seperti ular tua yang malas bangun dari tidur panjangnya. Kabut tipis menggantung rendah, menutupi sebagian pepohonan pinus yang berdiri rapat di sisi kiri dan kanan jalan. Udara di lereng Gunung Wilis selalu punya cara menyambut siapa pun—dingin, sunyi, dan seolah mengingatkan bahwa manusia hanyalah tamu kecil yang tak boleh sembarangan.

Setelah lima belas tahun merantau ke kota, Ardan akhirnya kembali ke kampung kelahirannya: Ngropoh, sebuah dusun kecil di kaki Wilis, yang sekarang terasa lebih sepi dibanding ingatannya. Ia turun dari mobil bak tetangga yang kebetulan menjemputnya di pasar kecamatan, lalu berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju rumah peninggalan keluarganya. Rumah yang seharusnya kosong itu menjadi alasan utama kepulangannya––rumah yang dulu pernah penuh tawa, sebelum semua berakhir terlalu cepat.

Rumah itu berdiri sedikit terpisah dari dusun, berada di bibir hutan kecil yang mulai menua. Atapnya tampak kusam, dan dinding kayu jati yang dulu kokoh kini mulai dimakan usia. Namun justru itulah yang membuat Ardan merasa seperti ditarik pulang oleh sesuatu yang tidak bisa ia tolak.

Saat ia membuka pintu depan, engsel tua itu berdecit panjang seperti suara seseorang mengeluh kelelahan. Ardan menghela napas. Debu berterbangan ketika ia masuk. Perabot-perabot lama masih berada di tempatnya, tapi ada sesuatu yang membuat Ardan mengerutkan alis: kursi goyang milik almarhum ibunya berada di posisi yang berbeda. Dulu kursi itu selalu diletakkan menghadap jendela, tapi kini terbalik—menghadap ke pintu, seperti seseorang baru saja duduk menunggu.

Ardan mencoba menepis perasaan aneh itu. “Mungkin angin… atau tikus,” gumamnya.

Namun, malam pertama di rumah itu membuat pikirannya tak bisa diam.

Pukul 01.17 dini hari, Ardan terbangun oleh bunyi halus seperti langkah kaki dari arah loteng. Pelan, ritmis, seolah seseorang berjalan bolak-balik di atas kepalanya. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.

Ia bangun, menyalakan lampu kamar, lalu menunggu. Langkah itu berhenti tiba-tiba, seperti mengetahui ia sudah terbangun.

Ardan duduk beberapa menit, mendengarkan. Hening. Lalu ada suara lain—seperti bunyi benda kecil jatuh.

“Pasti musang,” katanya di dalam hati, meski ia tahu suara itu terlalu teratur untuk hewan liar.

Namun malam itu ia memilih untuk tidak memeriksa.

Keesokan harinya, Ardan menemui tetangganya yang paling dekat, seorang lelaki tua bernama Mbah Sato, yang rumahnya berada sekitar seratus meter dari rumah Ardan. Lelaki itu dikenal ramah namun sedikit pendiam, dan Ardan berharap ia bisa memberi sedikit informasi tentang kondisi rumah.

“Lotengmu masih dipakai?” tanya Mbah Sato tiba-tiba, setelah mereka berbincang sebentar.

Ardan menggeleng. “Tidak. Bahkan aku belum membuka pintunya.”

Mbah Sato mengusap dagunya. “Kalau begitu… mungkin kamu dengar hal yang sama seperti dulu.”

Ardan menajamkan pendengarannya. “Maksud Mbah?”

Namun lelaki itu mengalihkan pandangan. “Ah, mungkin hanya tikus, Ndik. Musim-musim begini mereka banyak naik rumah.”

Ardan ingin bertanya lebih jauh, tapi tatapan Mbah Sato seperti menyuruhnya berhenti. Ada sesuatu yang tidak ingin lelaki tua itu ungkapkan.


Sore itu, Ardan memutuskan membersihkan ruang tengah. Saat menggeser lemari tua, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak.

Sebuah buku kecil berdebu.
Sampulnya cokelat tua, dengan nama ibunya: “Daryati” tertulis rapi di sudut kanan bawah.

Catatan harian ibunya. Catatan yang selama ini ia dengar keberadaannya, namun tidak pernah ditemukan setelah ibunya meninggal dalam keadaan misterius ketika Ardan masih SMA.

Tangan Ardan bergetar saat membuka halaman pertama.

“17 Juli. Ada sesuatu di loteng. Bukan tikus.”

Ia menahan napas.

“Langkahnya selalu datang pada jam yang sama. Aku tidak berani membuka pintu. Aku tahu suaramu beda, Dan. Itu bukan kamu.”

Ardan merasakan ruang itu menjadi lebih dingin. Ia menutup buku, menelan ludah, lalu membuka lagi.

“23 Juli. Kursi goyang bergerak sendiri tadi malam. Seperti ada yang duduk. Seperti sedang menunggu seseorang.”

Ardan memejamkan mata. Kursi goyang. Tepat seperti kondisinya saat ia tiba kemarin. Seolah waktu tidak pernah bergerak dari masa lalu.

Ia terus membaca.

“Aku mendengar suara itu memanggil. Pelan, dari atas loteng. Suara laki-laki… tapi bukan suamiku.”

Halaman berikutnya kosong. Lembaran setelah itu robek bersih.

Ardan merasakan tubuhnya dingin.

Siapa yang merobek halaman itu?


Malam kedua.

Ardan sengaja tidak tidur lebih awal. Ia ingin memastikan suara itu benar-benar nyata atau hanya imajinasinya yang lelah setelah perjalanan.

Pukul 01.10, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Angin dari jendela menampar tirai pelan, meski seharusnya tidak ada angin sekencang itu pada malam berkabut.

01.16
Ardan sudah duduk tegak.

01.17

Sesuatu terdengar.

Tok… tok… tok…

Langkah kaki. Tepat di atas kepalanya.

Pelan. Teratur.

Ardan berdiri. Untuk pertama kalinya, ia memutuskan mendekati pintu loteng.

Langkah itu berhenti.
Senjata kecil yang ia bawa hanyalah senter dan keberanian yang setengah-setengah.

Ia membuka pintu.

Ciiiittt—

Aroma tanah basah menyambutnya. Tangga kayu tua berderit saat ia naik satu per satu. Cahaya senter bergoyang, menciptakan bayangan aneh di dinding.

Sesampainya di puncak tangga, ia berhenti.

Loteng itu kosong.

Namun tidak benar-benar kosong.

Ada jejak kaki di debu—jejak kaki manusia dewasa.

Jejak itu melingkar, seolah seseorang berjalan mondar-mandir sebelum berhenti tepat di dekat tangga.

Ardan berlutut, menyentuh debu itu. Baru saja. Jejak itu baru terbentuk.

Tiba-tiba ada hembusan nafas hangat dari belakangnya.

Ardan berbalik cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia turun tergesa-tersa, menutup pintu loteng, dan tidak tidur sampai pagi.


Hari ketiga.

Ardan kembali menemui Mbah Sato. Kali ini ia tidak mau lagi mendengar jawaban sepotong-sepotong.

“Mbah tahu sesuatu tentang rumah itu, kan?” tanya Ardan, suaranya tegas.

Mbah Sato menarik napas panjang. “Ndik… kamu masih ingat ibumu dulu sering sakit-sakitan?”

Ardan mengangguk.

“Bukan sakit biasa,” lanjutnya pelan. “Ibumu seperti… mendengar sesuatu dari hutan. Dari punggungan Wilis. Ada yang memanggil dia.”

“Apa maksud Mbah?” Ardan menahan kesal.

“Di lereng sini, dulu ada cerita lama tentang ‘Sing Sowan Wengi’—yang datang waktu malam. Orang-orang dulu percaya ada penunggu yang suka mendatangi rumah-rumah tua, terutama rumah yang sendirian di pinggir hutan. Tidak jahat… tapi mencari sesuatu.”

“Apa yang dicari?”

Mbah Sato menggeleng. “Tidak ada yang tahu.”

Ardan tidak yakin dengan jawaban itu, tapi ia bisa melihat ketakutan di mata lelaki tua itu. Ketakutan yang bukan dibuat-buat.


Malam ketiga adalah malam yang mengubah segalanya.

Ardan duduk di ruang tengah, menatap kursi goyang yang ia paksakan menghadap jendela lagi. Ia ingin memastikan tidak ada yang menggesernya.

Pukul 01.17—

Kursi itu bergerak.

Perlahan.

Goyang…
bergoyang…

Seperti ada seseorang duduk di atasnya.

Ardan berdiri terpaku.

Lalu terdengar suara halus—suara seorang laki-laki berbisik dari arah loteng.

“Dan…”

Ardan merasa bulu kuduknya berdiri. Itu suara yang ia kenal. Suara yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Suara ayahnya yang meninggal saat ia masih kecil.

Ia membeku.

Bisikan itu terdengar lagi.

“Naiklah…”

Ardan mengambil langkah, seakan tubuhnya digerakkan sesuatu yang bukan kemauannya. Ia membuka pintu loteng. Udara dingin menusuk wajahnya. Tangga kayu itu terasa lebih gelap dari sebelumnya, seperti mulut gua yang menunggu menelan mangsanya.

Saat ia hampir mencapai puncak, bisikan itu berubah.

Lebih dalam.
Lebih berat.
Lebih bukan manusia.

“Bawa kembali… yang hilang…”

Ardan gemetar. “Apa yang hilang?”

Tidak ada jawaban.
Hanya suara langkah—di belakangnya, di tangga yang sama.

Pelan.
Mendekat.

Ardan tak menunggu lagi. Ia turun secepat mungkin, menutup pintu, bahkan menyandarkan lemari di depannya.

Ia tidak tidur lagi malam itu. Bahkan tidak menyalakan lampu. Ia hanya duduk sambil mendengar suara langkah itu terus berjalan pelan di loteng sampai fajar tiba.


Pagi berikutnya, Ardan memutuskan pergi dari rumah itu.

Saat ia keluar membawa tas, ia melihat sesuatu di kursi goyang.

Halaman catatan harian ibunya yang robek—diletakkan rapi di atas dudukan kursi.

Di atasnya tertulis satu kalimat:

“Yang hilang selalu kembali ke Wilis.”

Ardan menatap hutan di belakang rumah, berkabut tebal.
Kabut itu seolah bergerak.

Seolah memanggilnya kembali.

Cerita itu belum selesai. Dan ia tahu, cepat atau lambat, Gunung Wilis akan meminta sesuatu darinya.

Yang hilang…
pasti kembali.

Selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar