Sabtu, 27 Desember 2025

Penunggu Sumber di Bawah Akar yang Berbisik

Lu yakin ini Sumber Watu Gedhek?” bisik Damar sambil menyorotkan senter ke tanah becek.

Yakin, Mar. Kata Mbah Slamet, mata airnya di bawah pohon beringin tua itu,” jawab Rani, suaranya berusaha santai meski tangannya gemetar.

Santai? Santai dari mana? Ini jam sebelas malam, di hutan Trenggalek pula,” celetuk Bagas. “Kalau ketemu penunggu, lu yang jelasin, ya. Gue tukang kamera doang.

Halah, penunggu-penungguan. Yang ada nyamuk penunggu darah kita,” sahut Wulan sambil menepuk lehernya. “Aduh! Nih kan!

Ssst, jangan berisik,” Rani menegur. “Kita ke sini buat dokumenter lingkungan. Ingat?

Iya, dokumenter. Tapi kenapa harus malam?” Damar mengeluh.

Biar dapet suasana mistis, views naik, pesan lestari masuk,” jawab Rani cepat. “Logis.

Logis apanya?” Bagas terkekeh. “Yang logis itu tidur jam segini.

Mereka berhenti di depan pohon beringin besar. Akar-akar menjalar seperti ular, melingkupi batu hitam. Di bawahnya, suara air mengalir pelan.

Denger?” Wulan berbisik. “Airnya hidup.

Air ya mengalir, Wul,” Damar menimpali. “Masa mati.

Bukan itu,” Rani mendekat. “Kayak… ada yang napas.

Lu kebanyakan nonton horor,” Bagas mengangkat kamera. “Oke, rolling.

Halo, kami dari komunitas Lestari Sumber,” Rani berbicara ke kamera. “Di Desa Watuagung, Trenggalek, ada mata air yang dijaga alam dan…

Dan penunggunya,” Wulan nyeletuk.

Wulan!” Rani mendesis.

Tiba-tiba angin berputar. Daun beringin berdesir keras.

Eh, Mar, senter gue redup,” kata Bagas.

Gue juga,” Damar panik. “Baterainya baru!

Assalamu’alaikum,” suara berat muncul dari balik akar.

WAAAH!” Wulan teriak. “Itu siapa?!

Tenang, jawab salam,” Rani refleks. “Wa’alaikum salam.

Kalian datang tanpa izin,” suara itu lebih dekat. “Untuk apa mengganggu sumberku?

S-sumber? Maksudnya mata air ini?” Bagas terbata.

Dari balik akar, sosok tinggi muncul. Rambutnya panjang, wajahnya pucat namun teduh. Matanya dalam, seperti kolam.

Gue mimpi, ya?” Damar berbisik. “Kalau mimpi, cubit gue.

Gamau,” Wulan menjawab cepat. “Takut lu bangun, dia masih ada.

Aku penunggu beringin ini,” sosok itu berkata. “Nama manusia tak penting.

Pak… atau Mbak?” Bagas bingung.

Penunggu,” jawabnya datar.

Kami nggak bermaksud merusak,” Rani memberanikan diri. “Kami mau cerita supaya orang menjaga mata air.

Cerita?” Penunggu tersenyum tipis. “Manusia suka cerita, tapi lupa janji.

Kami beda,” Wulan cepat. “Kami bahkan bawa kantong sampah sendiri.

Itu baru kocak,” Penunggu terkekeh. “Takut hantu tapi peduli sampah.

Heh, kami konsisten,” Damar nyeletuk. “Takut tapi beretika.

Dulu,” suara Penunggu berubah lirih, “mata air ini diminum anak-anak desa. Sekarang, botol plastik menutup napasnya.

Kami lihat, Pak… eh, Penunggu,” Rani menelan ludah. “Itu sebabnya kami ke sini.

Lalu kenapa malam?” tanyanya.

Biar… lebih jujur,” Bagas menjawab. “Orang lebih dengar kalau takut sedikit.

Penunggu menatap kamera. “Takut bisa menjaga, tapi cinta yang melestarikan.

Wah, dalem,” Wulan berbisik. “Quoteable.

Jangan rekam aku,” kata Penunggu tiba-tiba.

Eh, maaf!” Bagas buru-buru menurunkan kamera. “Refleks.

Rekam airnya, rekam pohonnya,” lanjut Penunggu. “Biar manusia ingat, bukan aku yang menakuti, tapi ulah mereka sendiri.

Angin berhenti. Senter menyala normal.

Jadi… Bapak nggak marah?” Damar bertanya hati-hati.

Marahku bukan pada kalian,” jawabnya. “Tapi pada yang menebang, menutup, dan melupakan.

Kami bisa ajak warga bersih-bersih,” Rani bersemangat. “Edukasi, papan larangan, dokumenter.

Jangan cuma papan,” Penunggu menatap akar. “Tanam lagi.

Siap,” Wulan mengangguk. “Kami bawa bibit. Di motor.

Malam-malam bawa bibit?” Damar heran.

Ya kali ketemu hantu minta mie instan,” Wulan nyengir. “Antisipasi.

Penunggu tertawa. Suaranya seperti gemericik air.

Tertawamu mengingatkanku pada anak-anak dulu,” katanya lirih. “Mereka mandi di sini. Sekarang, airnya menipis.

Kami janji,” Rani berkata, suaranya bergetar. “Kami jaga cerita ini tetap hidup.

Janji itu berat,” jawabnya. “Tapi aku percaya pada yang berani datang dan mendengar.

Kalau boleh nanya,” Bagas mengangkat tangan seperti di kelas. “Bapak kenapa jadi penunggu?

Hening. Daun berdesir pelan.

Aku mati saat mempertahankan pohon ini,” katanya akhirnya. “Manusia menebang, air mengering, aku berdiri.

Maaf,” Wulan spontan.

Tak perlu,” Penunggu tersenyum. “Rawatlah, itu cukup.

Sosok itu perlahan memudar, menyatu dengan akar.

Eh… hilang?” Damar menelan ludah.

Kayaknya… iya,” Bagas menatap layar. “Dan baterai full lagi.

Oke,” Rani menarik napas panjang. “Besok kita balik siang. Ajak warga.

Setuju,” Wulan mengangguk. “Dan gue traktir bakso. Demi penunggu.

Demi lingkungan,” Damar menambahkan.

Dari bawah akar, air mengalir lebih deras. Seakan berbisik: jaga aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar