Setiap kali isu ketahanan pangan mengemuka, respons kita hampir selalu sama: bicara produksi nasional, impor, dan cadangan beras. Jarang sekali pembicaraan berangkat dari pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar: seberapa kuat dapur rumah tangga menghadapi guncangan? Di sinilah Trenggalek dan Tulungagung, dua kabupaten di selatan Jawa Timur, memberi pelajaran penting—bukan lewat proyek besar, tetapi lewat kemungkinan yang sederhana.
Bayangkan skenario yang jauh dari sempurna. Hanya 50 persen keluarga di Trenggalek dan Tulungagung menanam tiga pohon pisang di pekarangan rumah mereka. Tidak semua ikut. Tidak ada kewajiban. Tidak ada target politis. Lalu kita tunggu tiga tahun. Apa dampaknya?
Jawabannya mungkin tidak dramatis, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Secara geografis, kedua wilayah ini sebenarnya siap. Trenggalek memiliki kontur pegunungan dan dataran rendah yang lembap, sementara Tulungagung dikenal dengan dataran subur di bagian utara dan kawasan selatan yang basah. Pisang bukan tanaman asing di wilayah ini. Ia sudah lama tumbuh, dikenal, dan dikonsumsi masyarakat. Artinya, hambatan utama bukan pada alam, melainkan pada pergeseran kebiasaan hidup: pekarangan semakin kosong, pangan semakin jauh, dan ketergantungan pada pasar semakin mutlak.
Mari berhenti berandai-andai dan mulai menghitung secara wajar. Gabungan penduduk Trenggalek dan Tulungagung sekitar 1,9 juta jiwa, atau sekitar 472 ribu keluarga jika menggunakan asumsi empat orang per rumah tangga. Bila hanya separuhnya menanam pisang, berarti sekitar 236 ribu keluarga ikut.
Dengan tiga pohon per keluarga, akan tumbuh sekitar 708 ribu pohon pisang. Dengan asumsi konservatif—satu pohon menghasilkan satu tandan per tahun dengan berat rata-rata 12 kilogram—maka produksi tahunan mencapai sekitar 8.500 ton pisang. Dalam tiga tahun, jumlahnya melampaui 25 ribu ton.
Ini bukan angka sensasional. Justru sebaliknya: angka ini lahir dari partisipasi setengah-setengah, tanpa pembukaan lahan baru, tanpa subsidi besar, dan tanpa teknologi rumit. Namun dampaknya nyata.
Apa arti 25 ribu ton pisang bagi dua kabupaten ini? Artinya sebagian pangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar. Ia hadir di halaman rumah. Artinya ketika harga beras naik atau distribusi terganggu, rumah tangga memiliki bantalan. Pisang memang tidak menggantikan nasi, tetapi ia mengurangi tekanan pada satu sumber pangan utama. Dalam konsep ketahanan pangan, ini disebut buffer pangan rumah tangga—cadangan lokal yang menjaga stabilitas konsumsi saat sistem besar terguncang.
Pengalaman global menunjukkan bahwa krisis pangan jarang terjadi karena kurangnya produksi nasional semata. Ia terjadi karena pangan terlalu terkonsentrasi, terlalu jauh dari rumah tangga, dan terlalu bergantung pada mekanisme pasar. Ketika harga naik, yang paling dulu goyah bukan negara, melainkan dapur keluarga.
Dampak lain yang sering luput dihitung adalah ekonomi lokal. Surplus kecil dari pekarangan membuka ruang usaha mikro: pisang goreng, keripik, tepung pisang, jajanan pasar. Ini bukan industrialisasi, melainkan ekonomi bertahan—jenis ekonomi yang sering menyelamatkan keluarga ketika situasi memburuk. Bersamaan dengan itu, muncul kembali praktik berbagi hasil panen dan tukar olahan, memperkuat ikatan sosial yang selama ini tergerus.
Tentu saja, pendekatan ini bukan tanpa masalah. Penyakit tanaman pisang nyata. Tidak semua keluarga memiliki pekarangan. Tidak semua akan konsisten. Namun justru di sinilah argumennya menguat: bahkan dengan keterbatasan itu, dampaknya tetap signifikan. Artinya, masalah ketahanan pangan selama ini bukan karena kita kekurangan ide atau teknologi, melainkan karena terlalu lama mengabaikan solusi yang sederhana, lokal, dan tidak spektakuler secara politik.
Ketahanan pangan sering terjebak dalam logika proyek: harus besar, harus terpusat, harus terlihat. Padahal sejarah menunjukkan bahwa sistem pangan yang tangguh justru tumbuh dari diversifikasi, dari banyak sumber kecil yang tersebar, bukan dari satu mekanisme raksasa yang rapuh.
Jika tiga tahun ke depan Trenggalek dan Tulungagung masih rapuh menghadapi gejolak pangan, maka kita bisa berkata jujur bahwa pendekatan ini gagal. Namun jika dapur lebih tenang, pilihan pangan lebih beragam, dan ketergantungan pada pasar sedikit berkurang, maka satu kesimpulan sulit dibantah: ketahanan pangan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi dari keputusan kecil yang dilakukan bersama, meski tidak sempurna.
Dan mungkin, perubahan itu tidak dimulai dari meja rapat,
melainkan dari satu pohon pisang di halaman rumah.
Referensi singkat:
FAO – Household Food Security & Agroforestry;
Kementerian Pertanian RI – Optimalisasi Pekarangan;
Wikipedia – Banana Production in Indonesia;
Profil Kabupaten Trenggalek & Tulungagung (Pemprov Jatim).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar