Asap kopi dan kretek mengambang rendah di bawah lampu bohlam kuning warung itu, seperti kabut malas yang tak pernah benar-benar pergi. Warung Kopi Mbah Sastro berdiri setengah reyot di bantaran Sungai Ngrowo, airnya mengalir hitam berkilau, memantulkan cahaya malam Tulungagung yang muram. Jam dinding berhenti di pukul sembilan sejak entah kapan, tapi tak ada yang peduli. Di sini waktu selalu terlambat.
Aku duduk di bangku panjang, buku catatan di saku jaket, kopi pahit menghitamkan lidah. Namaku Arga, jurnalis lokal—jenis yang menulis obituari sebelum kematian terjadi dan laporan pasar malam yang berakhir ricuh. Aku datang ke warung ini karena rumor: cethe yang bukan sekadar hiasan rokok.
Cethe—lukisan kecil dari ampas kopi di kertas rokok—biasanya cuma permainan tangan dan kesabaran. Garis, titik, bunga, kadang wajah. Tapi malam ini, kata orang, ada yang lain. Ada peta.
“Ngopi, Mas?” Mbah Sastro mencondongkan badan, suaranya serak, matanya keruh tapi tajam.
“Ngopi wae, Mbah. Pahit,” kataku.
“Yo wis.”
Warung itu ramai. Tukang becak, pegawai pabrik marmer, dua mahasiswa yang sok tahu, dan satu sosok di pojok: pelukis cethe. Ia kurus, jaket kulit usang, topi ditarik rendah. Tangannya bergerak halus, kuas dari serabut kelapa menari di atas kertas rokok. Ampas kopi membentuk pola yang terlalu rapi untuk sekadar hiasan.
Aku mendekat perlahan. Noir mengajarkanku satu hal: jangan terlihat seperti sedang mencari. Lihat saja.
“Cethe-ne apik, Rek,” kata seorang pelanggan.
Pelukis itu tersenyum miring. “Apik iku relatif.”
Aku melihatnya. Pola itu bukan bunga. Bukan juga batik. Garis-garisnya berpotongan pada sudut aneh, titik-titik seperti penanda. Aku teringat peta lama situs Wajakensis—lokasi penemuan fosil manusia purba di selatan Tulungagung. Garis sungai, bukit kapur, jalur tanah.
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Mas, iku maksudé opo?” tanyaku, berpura-pura bodoh.
Pelukis menatapku. Matanya dingin. “Rokok yo kanggo diobong, Mas. Ojo kebanyakan mikir.”
Dialeknya tipis, tapi jelas Jawa Timuran. Aku tersenyum. “Jurnalis kebiasaan mikir.”
Ia tertawa pendek. “Bahaya, lho.”
Aku meminjam rokok yang baru saja selesai dicethe. Kertasnya masih basah oleh kopi. Bau pahit menusuk.
“Sebentar, Rek,” kataku. “Tak nikmati seniné dulu.”
Aku duduk kembali, membuka buku catatan. Asap makin tebal. Di luar, Sungai Ngrowo bergumam seperti saksi tua yang bosan bicara. Aku mulai memecahkan kode itu. Garis panjang sejajar—alur sungai. Titik besar—warung ini? Tiga titik kecil berderet—jembatan bambu dekat Wajak. Sudut tajam—tebing kapur.
“Mas, rokoké keburu kering,” kata Mbah Sastro.
“Nggeh, Mbah.”
Pelukis berdiri. Tangannya meraih korek. “Wis wayahe.”
Aku menahan napas. Jika rokok itu dibakar, peta itu lenyap.
“Tunggu!” seruku. “Iki… iki peta Wajakensis, yo?”
Warung mendadak hening. Pelukis berhenti. Matanya menyipit.
“Kowe pinter,” katanya pelan. “Tapi kepinteran iso mateni.”
Aku melihat detail terakhir: tanda silang kecil di dekat pertemuan garis. Lokasi transaksi. Barang antik curian—fosil, artefak—diperdagangkan diam-diam, disamarkan sebagai seni cethe. Cerdas. Terlalu cerdas.
“Barang kuwi dicolong,” kataku. “Warisan.”
“Warisan sopo?” Ia tertawa. “Negara ora peduli. Wong cilik ora oleh apa-apa.”
Ia menyalakan korek. Api kecil menari. Aku meraih tangannya. Asap berputar. Kursi berderit. Seseorang berteriak, “Eh, rek!”
Api hampir menyentuh rokok. Aku memutar kertas itu, menghafal cepat. Sungai, tebing, jembatan, silang. Lalu—api menyala. Cethe terbakar, kopi menghitam jadi abu.
Pelukis menarik tangannya, mundur. “Wis rampung.”
Ia berjalan keluar, lenyap ke malam. Warung kembali berisik, seperti tak terjadi apa-apa. Aku duduk, tangan gemetar, peta terbakar tapi tersimpan di kepala.
Aku tahu ke mana harus pergi.
Subuh menemukan aku di dekat tebing kapur Wajak. Kabut tipis. Burung-burung ragu terbang. Aku menunggu. Jam berlalu. Lalu truk tua datang, lampu mati. Orang-orang turun, membawa peti kayu.
Aku mengangkat kamera.
Dan lalu—tepuk tangan pelan di belakangku.
“Bagus, Mas Arga,” suara itu familiar. Mbah Sastro.
Aku menoleh. Ia berdiri dengan jaket rapi, tak lagi tampak renta. Di sampingnya, pelukis cethe. Senyum mereka sama.
“Panjenengan…?” kataku.
“Pemilik warung cuma topeng,” kata Mbah Sastro. “Aku sing ngatur.”
Pelukis menambahkan, “Kita butuh wong kaya kowe. Jurnalis. Penasaran. Cepat nangkep.”
Aku tertawa pahit. “Kalian pakai aku.”
“Ngono yo ora,” Mbah Sastro menggeleng. “Kowe sing milih teka.”
Aku melihat peti-peti itu dibuka. Bukan fosil. Bukan artefak. Isinya—buku, catatan, arsip tua. Dokumen tentang penemuan Wajakensis, tentang manipulasi sejarah, tentang penjualan kebenaran.
“Kami ora dodol barang,” kata pelukis. “Kami dodol cerita. Sejarah palsu. Sing luwih larang.”
Aku terdiam. Plot twist yang kejam: barang antik bukan batu dan tulang, tapi narasi.
“Terus aku?” tanyaku.
Mbah Sastro tersenyum. “Kowe wis nulis setengahé. Artikelmu besok bakal jadi pemicu. Skandal. Kita dapat untung.”
Aku menutup kamera. Noir tak pernah memberi pilihan bersih.
Di kejauhan, Sungai Ngrowo mengalir, membawa rahasia ke laut. Aku tahu satu hal: cerita ini akan kuberitakan. Tapi siapa yang sebenarnya terbakar—cethe di rokok, atau kebenaran di kepalaku—itu pertanyaan yang akan menghantui Tulungagung lama setelah asap warung kopi menghilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar