a: ragu, waspada, lalu cepat-cepat mengalihkan pandang.
“Mas, nginep neng kene tenan?” tanya Pak Sukirno, perangkat desa yang menjemputku di balai.
“Iya, Pak. Cuma satu malam. Katanya malam Jumat Kliwon di sini… banyak cerita,” jawabku sambil tersenyum.
Pak Sukirno tidak membalas senyumku. “Cerita kuwi ora kanggo digoleki.”
Aku terkekeh canggung. “Saya cuma nulis, Pak. Nggak percaya hal-hal begitu.”
Beliau berhenti melangkah. “Mas, nek wis mlebu Panggul, ojo ngomong ora percaya.”
Nada suaranya pelan, tapi membuat tengkukku dingin.
Kami tiba di rumah joglo tua di pinggir desa. Di belakangnya terbentang hutan jati yang langsung menghitam ketika matahari tenggelam. Bau tanah basah bercampur melati samar.
“Mas tidur di sini,” kata Pak Sukirno. “Nek krungu opo-opo, ojo metu.”
“Kenapa, Pak?”
“Pantangan.”
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi Bu Sulastri, janda sepuh yang tinggal di rumah sebelah, muncul membawa lampu teplok.
“Pak, bocah iki wis diweling durung?” tanyanya lirih.
Pak Sukirno mengangguk ragu. “Wis sethithik.”
Bu Sulastri menatapku. “Mas, kulo nyuwun. Wengi iki, ojo nyebut jeneng sendang.”
“Sendang apa, Bu?”
Lampu teplok bergetar di tangannya. “Nah… kuwi sing ora oleh ditakokke.”
Malam turun cepat. Sunyi terasa tebal, seperti ada yang menekan telinga. Kentongan ronda terdengar satu kali, lalu berhenti. Tidak ada suara serangga.
Aku duduk di lantai joglo bersama Pak Sukirno dan Bu Sulastri. Di sudut ruangan tergantung kain lurik hitam kecokelatan.
“Mas ngerti ora sejarah Wonocoyo?” tanya Bu Sulastri.
“Sedikit. Katanya desa tua.”
Pak Sukirno menyela, “Desa iki tau ilang.”
“Loh?”
“Jaman biyen,” katanya pelan, “Wonocoyo iki ora katon. Sing liwat mung krungu gamelan, nanging ora nemu omah.”
Bu Sulastri melanjutkan, “Mergo ana janji sing dilanggar.”
Aku mencondongkan badan. “Janji apa?”
Keduanya saling pandang.
Bu Sulastri berbisik, “Janji karo sing njaga Sendang Selo Ireng.”
Jantungku berdegup. “Sendang keramat itu?”
Lampu teplok hampir padam.
Pak Sukirno mendesah. “Mas… sampeyan wis kaping pindho nyebut.”
“Maaf, Pak.”
“Wis kebacut,” katanya. “Mula saiki kudu dirungokke.”
Dari luar joglo, terdengar suara langkah. Pelan. Mengelilingi rumah.
“Ojo noleh,” bisik Bu Sulastri.
Aku menatap lantai. “Pak… ada siapa di luar?”
“Sing ora perlu dijawab,” kata Pak Sukirno.
Langkah berhenti tepat di belakang dinding kayu. Ada bau melati sangat kuat.
Bu Sulastri mulai berbicara cepat, seperti mengejar waktu. “Sendang kuwi biyen panggonan sumpah. Wong desa njaluk slamet, ora diganggu alas, ora diganggu segoro kidul sing cedhak kene.”
“Terus?” tanyaku.
“Imbale,” lanjutnya, “saben malam Jumat Kliwon, ora ana sing oleh ngomong jenenge. Ora ana sing oleh crita marang wong njaba.”
Aku tercekat. “Tapi sekarang saya di sini.”
Pak Sukirno tertawa lirih tanpa senyum. “Mergo ana sing wis ngomong luwih dhisik.”
“Siapa?”
Kentongan berdentang keras. Tiga kali. Dari arah pesarean tua di pinggir hutan.
Bu Sulastri menutup wajahnya. “Putune juru kunci. Mati neng sendang.”
Aku merinding. “Mati tenggelam?”
Pak Sukirno menggeleng. “Ora ana banyu neng paru-parune.”
Langkah di luar bergerak lagi. Lebih dekat. Kayu joglo berderit.
“Mas,” kata Pak Sukirno, suaranya bergetar. “Sampeyan nek krungu ana sing ngajak ngomong, ojo dijawab.”
“Kalau dipanggil nama saya?”
“Utamane kuwi.”
Aku ingin bertanya kenapa, tapi tiba-tiba terdengar suara gamelan lirih, seperti dari bawah lantai. Nada saron, pelan, tidak lengkap.
Bu Sulastri berdoa dalam bahasa Jawa halus, terbata-bata.
“Pak,” bisikku. “Kenapa gamelannya dari bawah?”
Pak Sukirno memejamkan mata. “Sendange ora adoh.”
Aku teringat peta desa. “Bukannya sendang itu di belakang hutan?”
“Sing katon, iya.”
Suara seseorang berbisik dari arah pintu. Suara laki-laki muda. “Pak Sukirno…”
Beliau tersentak. “Meneng!”
“Pak… aku kedinginan…”
Bu Sulastri menangis tertahan. “Mas, kuwi swarane…”
“Putune,” jawab Pak Sukirno pelan.
Aku tanpa sadar menoleh ke pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi bau melati makin menusuk, dan lantai di depanku basah seperti rembesan air.
“Mas!” Pak Sukirno memegang bahuku. “Ojo didelok ngendi-endi maneh.”
“Maaf… maaf…”
Suara itu terdengar lagi, lebih dekat, tepat di belakang telingaku. “Jeneng sendange…”
Aku gemetar. “Saya nggak tahu.”
“Kowe wis ngerti,” bisiknya.
Gamelan berhenti mendadak. Sunyi yang menyakitkan.
Tiba-tiba ayam berkokok. Satu. Dua. Subuh.
Kentongan berdentang satu kali panjang.
Bu Sulastri menghela napas panjang. “Wis rampung.”
Pak Sukirno berdiri lemas. “Mas, sakwise subuh, sampeyan langsung lunga.”
“Kenapa, Pak?”
Beliau menatapku dalam-dalam. “Mergo saiki sing ngerti wis nambah siji.”
Aku ingin protes, tapi kata-kata tercekat di tenggorokan. Ada sesuatu yang terasa tertinggal di dadaku, seperti nama yang terus mengetuk ingin disebut.
Saat aku melangkah keluar joglo, kulihat jejak kaki basah mengarah ke hutan jati… lalu menghilang tepat di batas gelap.
Dari kejauhan, samar-samar, gamelan berbunyi lagi.
Dan aku sadar, sejak tadi, aku hafal betul nama sendang itu—padahal tidak ada yang pernah mengucapkannya dengan jelas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar